Kesaksian Jim Caviezel pemeran Yesus "Passion of The Christ"

Diposting oleh Andre Primaries on Selasa, 06 Desember 2011

Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam Film “The Passion Of the Christ”.

“ suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah…, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda.

Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film2 lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu.

Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai actor di Hollywood.

Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan resiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood . Sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman.

Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya. “Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?” Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di “Thin Red Line”. Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita buat film ini!


Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunanNya melakukan semua ini. Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seorang yang dalam hubungan denganNya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya.

Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlit bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh hidup saya.

Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendakMu.
Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya.

Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya sangat tertekan. Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu dipundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga.

Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis.

Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu. Saya bekata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini. Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat didalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.

Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm. Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan ditanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan.

Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung diatas kayu salib, diatas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.

Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini.

Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada diatas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung diatas kayu salib itu, disamping kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang (setan tidak senang dengan adanya pembuatan film seperti ini). Dan sayapun tidak sadarkan diri.

Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul disekeliling saya, sambil berteriak-teriak “dia sadar! dia sadar!” (dalam kondisi seperti ini mustahil bagi manusia untuk bisa selamat dari hamtaman petir yang berkekuatan berjuta-juta volt kekuatan listrik, tapi perlindungan Tuhan terjadi disini).

“Apa yang telah terjadi?” Tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu.

Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh… itu sangat luar biasa… mengagumkan… tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada disitu, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diriNya sendiri.

Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini.

Saya harap mereka yang menonton The Passion Of Jesus Christ, tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa.

Amin.

“TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA”
Read More

Lukas 11:9-13, Meminta Roh Kudus?

Diposting oleh Andre Primaries on Minggu, 04 Desember 2011

Kitab injil Lukas adalah hasil karya dari dokter Lukas yang juga menulis kitab Kisah Para Rasul. Ajaran Lukas tentang Roh Kudus mempunyai tempat tersendiri. Hal ini dapat terlihat oleh karena penyebutan Roh Kudus lebih banyak dari pada di dalam injil sinoptik lainnya. Penekanan Roh Kudus tersebut dapat terlihat dalam diri Yohanes Pembaptis dan Yesus sendiri, yaitu ketika mereka berada dalam kandungan ibu mereka. Peranan Roh Kudus dalam seseorang menurut Lukas memberdayakan seorang pelayan Tuhan untuk menjalankan sebuah misi. Jadi bisa dikatakan bahwa Roh Kudus yang ditekankan oleh Lukas adalah untuk pelayanan.

Dalam pasal 11 ini dimulai dengan cerita ketika Yesus sedang berdoa di suatu tempat dan ketika ia berhenti berdoa, salah seorang murid-Nya meminta kepada Yesus untuk diajarkan berdoa sama seperti Yohanes Pembaptis mengajarkan berdoa kepada murid-muridnya. Sesudah itu Yesus mengajarkan mereka berdoa yang di dalam injil Matius dikenal dengan doa "Bapa kami". Akan tetapi di dalam injil Lukas tidak selengkap dengan Matius. Lukas mengakhiri doa tersebut dengan kata, dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.", berbeda dengan Matius yang menulis doa Bapa Kami dengan kalimat penutup. Sepertinya dalam tulisannya, Lukas ingin langsung sampai kepada apa yang ia tekankan yaitu tentang meminta sesuatu.

Ayat dalam Lukas 11:5-8 adalah perkataan Yesus yang merupakan bagian dari jawaban-Nya atas permintaan murid-murid-Nya tentang bagaimana berdoa yaitu suatu analogi tentang seseorang yang meminta roti kepada sahabatnya pada tengah malam. Orang yang dimintai roti tersebut tidak menolak apa yang menjadi permintaan sahabatnya yang tidak tahu malu itu pada waktu tengah malam. Ia tetap memberikan apa yang diminta sahabatnya. Sesudah itu Lukas membawa pemikiran pembacanya lewat analogi tersebut, ia langsung memberikan suatu ajaran Yesus tentang meminta sesuatu (ayat 9-10). Dalam analogi tersebut para pembacanya mengetahui bahwa sebuah permintaan akan dikabulkan meskipun sebenarnya si pemberi roti itu merasa terganggu dengan permintaan tersebut. Jelas bahwa analogi tentang seorang sahabat yang meminta roti adalah untuk mempertegas ayat 9-10 tentang meminta dan pengabulannya.

Dalam ayat 9 bisa merupakan ajakan atau perintah Yesus dalam hal meminta sesuatu dan kepastian untuk mendapatkan hasilnya dari usaha-usaha tersebut. Ayat 10 adalah akibat jika meminta sesatu atau janji bagi mereka yang melaksanakan apa yang diperintahkan untuk dilakukan itu (kegiatan meminta, mencari, dan mengetuk). Bentuk future memberikan pengertian bahwa pemenuhan itu akan dilaksanakan dan digenapi.

Jika dilihat konteks selanjutnya dalam Lukas 11:11-13 maka kembali lagi Yesus memberikan suatu contoh bapa yang jahat yang bisa memberikan pemberian yang baik kepada anaknya. Hubungan antara bapak dan anak adalah sebuah gambaran hubungan yang dekat dan merupakan hal yang biasa apabila seorang anak meminta sesuatu kepada bapaknya. Kemudian Ia bandingkan lagi bapa yang jahat ini dengan Bapa di Sorga yang artinya bapa yang jahat tahu memberikan hal yang baik kepada anaknya apa lagi jika meminta kepada Bapa di sorga. Yang menjadi pertanyaan apa yang menjadi permintaan itu? Tentu ini semua harus melihat konteksnya yang dapat dilihat dalam Lukas 11:13. "Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

Dalam injil Matius berbeda dengan injil Lukas. Matius menggunakan hal "yang baik" (good thing), sedangkan Lukas menggunakan Roh Kudus. Kemungkinan Lukas atau sumbernya membuat ungkapan "hal yang baik" lebih jelas dalam pandangan gereja mula-mula atas pengalaman dengan Roh Kudus, yang memainkan peranan yang besar dalam berkat Allah. Penyebutan Roh Kudus ini merupakan pencantuman doa untuk datangnya Roh Kudus. Ayat 13 adalah ayat penutup pembahasan dari ayat pertama dan ayat selanjutnya tidak membahas tentang doa atau meminta akan tetapi membahas tentang Yesus menyembuhkan orang yang bisu. Ayat 13 adalah inti dari apa yang ingin Yesus sampaikan kepada murid-murid-Nya menurut Lukas. Dilihat dari konteksnya maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa yang diminta kepada Bapa menurut perikop ini adalah Roh Kudus.

Lukas dalam tulisannya bukanlah mengajak pembacanya untuk meminta hal-hal lain, akan tetapi dalam ayat 13 ia menekankan meminta Roh Kudus dan Bapa akan memberikan-Nya. Matthew Henry berpendapat: we must ask for the Holy Spirit, not only as necessary in order to our praying well, but as all spiritual blessings are included in that one. Jelas sekali bahwa Roh Kudus adalah hal yang penting dan harus diminta, dan dalam konteks Lukas Roh Kudus berkarya untuk kepentingan pelayanan orang-orang yang dipenuhi dengan Roh Kudus.

Dengan meminta maka akan diberikan, dengan mencari maka akan ditemukan dan dengan mengetuk maka akan dibukakan. Ini merupakan suatu akibat atau janji jika melaksanakan apa yang telah Yesus perintahkan (mintalah, carilah, ketuklah) untuk dilakukan. Jika terus meminta Roh Kudus maka Bapa di sorga akan memberikannya sebab ini adalah perintah dan Dia berjanji akan memberikan Roh Kudus itu.

Meminta adalah bentuk doa yang Yesus berikan untuk dilakukan oleh para pendengar-Nya pada saat itu. Perkataan Yesus dalam teks Lukas 11:9, mengajarkan untuk terus meminta kepada Bapa di surga, dan Dia akan memberikannya apa yang telah diminta itu. Dalam permohonan atau doa meminta, Bapa berjanji akan memberikannya karena Dia sendiri yang mengajak untuk meminta, oleh sebab itu firman tersebut harus diyakini bahwa Bapa akan menggenapinya.

Dalam Lukas 11:9-13 berbicara tentang meminta Roh Kudus karena sesuai dengan ayat 13. Lukas menekankan hal ini karena dalam injil Lukas selau menonjolkan fungsi Roh Kudus dalam pelayanan. Roh Kudus dalam Lukas berfungsi untuk memberdayakan seseorang di dalam pelayanan yang ia lakukan.
Read More

Berbeda dengan Agama Lain

Diposting oleh Andre Primaries

Berada di lingkungan yang berbededa agama adalah satu tantangan tersendiri bagi orang yang mengakui dirinya seorang Kristen. Sepertinya jika berada di lingkungan ini, Kekristenan yang yang di akui sebagai iman lebih teruji dibandingkan dengan berada di kandang sendiri (di lingkungan keluarga Kristen, gereja, Sekolah Teologi atau oganisasi Kristen).

Semua agama pasti menganggap bahwa ajaran agamanya adalah kebenaran dan Kristen pun demikian. Masing-masing agama berusaha untuk menunjukkan bahwa ajaran agamanya benar. Mungkin melalui aktivitas ibadah, ajaran (doktrin) dan tentu oleh iman yang diakui. Tapi itu boleh dikatakan, masih teori yang perlu diuji kebenarannya. Contohnya jika seorang Kristen berusaha untuk mempertahankan kebenaran iman atau agamanya lewat perdebatan, argument, karya ilmiah dan sebagainya, bukankah dari agama lain juga melakukan yang sama? Lalu dimana letak kebenaran Kekristenan itu? Mungkin salah satu cerita di negeri Persia ini dapat menjelaskan hal tersebut.

Pada saat pemerintahan Raja nebukadnezar, kerajaan Babel telah mengusai Yerusalem. Sebagian dari perkakas Rumah Allah dibawa dan ia juga memerintahkan agar diambil beberapa orang muda yang berasal dari keturunan raja dan bangsawan, berperawakan bagus, berhikmat berpengetahuan banyak yang akan diajarkan bahasa Kasdim sehingga mereka bisa bekerja di istana Raja. Diantara mereka ada orang muda yang bernama Daniel serta tiga orang temannya Sadrak, Mesak dan Abednego.

Meskipun sebagai orang buangan, mereka diperlakukan istimewa di dalam istana raja. Mereka bisa menyantap apa yang dimakan oleh raja. Akan tetapi hal itu adalah suatu kenajisan bagi mereka. Mereka masih tetap berpegang kepada Taurat yang diajarkan untuk tidak menajiskan diri dalam hal makanan. Mereka lebih memilh untuk makan makanan yang sederhana seperti sayuran.

Ujian lain juga menimpa rekan-rekan Daniel, yaitu Sadrakh, Mesakh dan Abednego ketika Raja Nebukadnezar mendirikan patung yang harus disembah oleh semua orang yang hadir dalam penthabisan patung itu. Mereka sama sekali tidak takut dengan hukuman mati di dalam perapian. Ketaatan mereka kepada Tuhan mereka lebih besar. Dan itu telah terbukti dengan tindakan mereka yaitu tidak menyembah patung buatan Raja yang mengakibatkan mereka dibuang ke dalam perapian. Tuhan tidak pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya. Dia menolong Sadrak, Mesak dan Abednego sehingga mereka tidak terbakar sedikitpun. Melihat hal itu raja Nebukadnezar memuliakan Allah yang disembah Sadrakh, Mesakh dan Abednego.

Ketika kerajaan Babel ditaklukan oleh Darius orang Media, Daniel kembali mendapatkan kepercayaan yang besar yaitu menjadi salah satu pejabat tinggi yang membawahi wakil-wakil raja di seluruh kerajaan. Dalam menjalankan tugasnya, Daniel sama sekali tidak mempunyai alasan untuk disalahkan. Akan tetapi orang yang tidak menyukainya mencari-cari alasan agar Daniel dapat disalahkan.

Orang-orang yang tidak senang kepada Daniel mengusulkan agar, dalam tiga puluh hari tidak boleh menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada raja. Dan siapapun yang melanggar, maka ia akan dilemparkan ke dalam gua singa. Peraturan ini adalah salah satu peraturan yang tidak dapat ditaati oleh Daniel oleh karena kebiasaannya berdoa kepada Allahnya tiga kali sehari. Inilah yang dimanfaatkan untuk menjatuhkan Daniel sehingga pada akhirnya ia ditangkap oleh karena melanggar apa yang telah diputuskan oleh raja.

Dengan sedih hati raja setuju untuk membuang Daniel ke dalam gua singa meskipun dalam hatinya ia sama sekali tidak setuju untuk memperlakukan Daniel seperti itu. Keputusan yang telah dibuatnya tidak dapat dicabut lagi. Lagi-lagi, Allah Daniel tidak meninggalkannya di dalam gua singa. Allah mengutus malaikatnya untuk mengtup mulut-mulut singa sehingga tidak terjadi apa-apa kepada Daniel. Oleh karena kejadian ini raja memerintahkan agar orang-orang yang telah menuduh Daniel dicampakkan ke dalam gua singa bersama seluruh keluarganya. Raja juga mengumumkan di seluruh wilayah kekuasaanya agar harus takut dan gentar kepada Allah Daniel.

Dari sekilas cerita di atas, Dapat dilihat ketaatan Daniel, sadrakh, Mesak dan Abednego kepada hukum Taurat (dalam hal makanan, tidak menyembah kepada patung), taat setia kepada Allah dan melakukan tugas dengan baik, berprestasi dalam kerja sehingga dipercayakan banyak hal oleh pemerintahan-pemerintah yang berkuasa pada saat itu. Daniel dan rekannya adalah orang buangan yang bekerja di pemerintahan (kerajaan) yang lingkungannya berbeda dalam hal kebudayaan dan agama yang mereka miliki. Akan tetapi mereka labih unggul dalam segala hal, baik dalam pengetahuan, hikmat, tindakan, dan dalam prestasi. Di kerajaan Babel Daniel menjadi orang kepercayaan semenjak kekuasaan raja Nebukadnezar, Belsyazar, dan raja Darius. Tindakan dan ketaatannya kepada Allahnya membuat raja-raja pada saat itu memuliakan Allah yang Daniel sembah.

Dari cerita di atas, apa refleksinya bagi kehidupan orang Kristen sekarang ini yang hampir semuanya berada di lingkungan pekerjaan, lingkungan sosial yang di dalamnya mungkin ada perbedaan agama atau kepercayaan? Sanggupkah orang Kristen bertindak seperti Daniel dan rekan-rekannya, ditengah perbedaan-perbedaan sehingga agama lain dan dunia dapat melihat Allah yang disembah oleh orang Kristen? Jawabannya hanya dapat ditemukan di dalam tindakan orang Kristen di lingkungan pekerjaan dan lingkungan masyarakat atau dimanapun mereka berada.
Read More

Doa Adalah Gaya Hidup Orang Percaya

Diposting oleh Andre Primaries

Sering kali kita mendengar dan bahkan mempercayai bahwa doa adalah nafas hidup bagi orang percaya. Pernyataan ini hendak mengatakan bahwa tanpa doa, sesungguhnya kehidupan rohani orang percaya telah terganggu, bahkan mungkin telah mengalami kematian. Tanpa doa, kehidupan rohani kita sangat mengerikan (miserable). Akan tetapi di dalam realitas kehidupan yang sesungguhnya, kebenaran pernyataan di atas hanya sebatas kepada pengetahuan intelektual belaka. Kita tahu bahwa doa itu sangat penting, tetapi sering kali kita lalai untuk berdoa atau berdoa hanya jika kita anggap kita perlu. Kalau tidak perlu, dan faktanya kita sering kali tidak memerlukannya, kita tidak berdoa. Seakan-akan doa hanya sebuah pilihan berdasarkan keperluan. Kita semua sebagai orang percaya, tentunya, mengetahui bahwa doa bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah gaya hidup bagi orang percaya.
Doa adalah Gaya Hidup Apa itu gaya hidup? Untuk menerangkan dengan mudah yang dimaksud dengan gaya hidup, kita dapat memperhatikan ilustrasi berikut ini. Bob Sadino adalah seorang pengusaha yang berhasil. Dalam penampilannya di mana saja, ia selalu mengenakan celana pendek. Entah ketika diwawancarai di televisi, entah sebagai model iklan, maupun sebagai bintang sinetron, ia selalu mengenakan celana pendek. Celana pendek menandai seorang Bob Sadino. Inilah gaya hidup.
Setiap hari, ketika di rumah, saya mengenakan celana pendek dan koas singlet. Entah di siang hari yang panas, entah di malam hari yang dingin, bahkan ketika tidur dengan kamar ber-AC, saya mengenakan pakaian itu. Itulah gaya hidup saya. Suatu saat di rumah saya berpakai tidak seperti biasanya, maka anak saya bertanya kepada saya: "Papa mau ke mana? Aleth ikut papa, ya."Saya jawab anak itu: "Papa tidak ke mana-mana." Anak itu menjawab: "Kok, Papa pakai kaos?" Padahal saya hanya mengenakan kaos oblong. Dalam hal ini, gaya hidup saya ditandai dengan celana pendek dan kaos singlet ketika berada di rumah. Jadi gaya hidup adalah ciri yang menjadi bagian yang melekat dalam diri seseorang yang menandai kehidupannya sehari-hari.
Mari kita membuka dan membaca kitab Daniel 6:11. Ayat ini menceritakan tentang Daniel, setelah mendengar bahwa Raja Darius menandatangani surat larangan yang tak dapat diubah kepada siapa saja untuk tidak melakukan permohonan kepada semua dewa atau manusia selain kepada raja sendiri dalam waktu 30 hari ke depan, berlutut, berdoa dan memuji Allah di rumahnya. Ayat ini juga menerangkan bahwa doa yang dilakukan Daniel dengan kata keterangan "seperti yang biasa dilakukannya." Keterangan ini hendak mengatakan kepada kita bahwa Daniel berdoa bukan hanya ketika ia menghadapi larangan yang baru saja ditandatangani Raja Darius. Bagi Daniel, doa adalah sudah menjadi bagian yang melekat dalam diri dan tak dapat dipisahkan. Bagi Daniel, tiada hari tanpa tiga kali sehari bedoa, entah ada atau tidak ada masalah. Doa adalah gaya hidupnya.
Bukankah surat larangan yang dikeluarkan oleh Raja Darius, sesungguhnya adalah hasil dari persekongkolan para pejabat lain yang ingin menjatuhkan Daniel? Mereka tahu bahwa tidak ada satu kesalahan pun dalam diri Daniel, kecuali seperti yang mereka katakan dalam ayat 6: "kita tidak akan mendapat satu alasan dakwaan terhadap Daniel, kecuali dalam hal ibadahnya kepada Allahnya." Melalui ayat ini kita dapat mengatakan bahwa para pejabat lain telah mengetahui bahwa doa telah menjadi ciri yang melekat di dalam diri Daniel dan itu menandai gaya hidup sehari-harinya. Kalau Anda ditanya: "apakah Anda kenal Daniel?" Seharusnya Anda menjawab menjawab: "Daniel yang mana? Daniel yang suka berdoa, ya? Kalau dia, saya kenal."
Martin Luther berkata: "I have so much business I cannot get on without spending three hours daily in prayer" (Saya mempunyai banyak urasan yang tak dapat saya jalankan tanpa menghabiskan 3 jam sehari dalam doa). John Wesley berkata: "God does nothing but in answer to prayer" (Allah tidak mengerjakan apa-apa kecuali menjawab doa). Karena keyakinannya ini ia berdoa dua jam sehari. Markus 1:35 mengatakan: pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana." Apa yang dikatakan Markus adalah gaya hidup Yesus.
Mengapa Doa Harus Menjadi Gaya Hidup? Pertama-tama, doa harus menjadi gaya hidup orang percaya karena doa menyatakan bahwa kita percaya kepada Allah. Larangan yang ditandatangani oleh raja itu memiliki konsekuensi yang berat bagi para pelanggarnya, yaitu dilemparkan ke dalam gua singa (Dan 6:8). Daniel mendengar dan mengetahui perintah larangan dan konsekuensinya, tetapi apa yang dilakukan, yaitu berdoa, bukan semata-mata untuk melanggar larangan Raja. Ia berdoa sebagai bentuk bahwa ia percaya dan mempercayakan dirinya sendiri kepada Allah. Lihat apa yang dituturkan Alkitab: "Lalu sangat sukacitalah raja dan ia memberi perintah, supaya Daniel ditarik dari dalam gua itu. Maka ditariklah Daniel dari dalam gua itu, dan tidak terdapat luka apa-apa padanya, karena ia percaya kepada Allahnya" (Dan 6: 24). Wayne Grudem mengatakan: "prayer expresses our trust in God and is a means whereby our trust in him can increase" (doa menyatakan kepercayaan kita kepada Allah dan doa adalah sarana di mana keprcayaan kita akan dia dapat bertumbuh).
Yang kedua, doa adalah penyembahan. Grudem mengatakan: "Worship is the activity of glorifying God in his presence with our voices and hearts" (penyembahan adalak aktivitas pengagungan Allah di dalam hadirat-Nya dengan suara dan hati kita). Kita kembali pada teks utama kita, yaitu Dan 6: 11. Dalam ayat ini, Daniel berlutut, berdoa, dan memuji Allah. Ketiga aktivitas ini bukan terpisah satu dengan lainnya, melainkan satu kesatuan. Ketika Daniel berlutut untuk beroda, di dalam doa itu Ia memuji Allahnya. Aktivitas yang dilakukannya oleh Raja Darius disebut sebagai penyembahan. Sang Raja berkata: "Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya melepaskan engkau!" (6:17). Sekali lagi Sang Raja berkata: "Allahmu yang kausembah dengan tekun," (6:21). Doa bukan hanya permintaan dan permohonan. Di dalam doa ada pengagungan, ada pemuliaan nama Tuhan.
Ketiga, doa membawa kita pada persekutuan yang lebih mendalam dengan Allah. Sekali lagi, di sini kita mengutip perkataan Grudem. Ia berkata: "prayer is personal communication with God" (doa adalah komunikasi pribadi dengan Allah). Seorang presiden sebuah perusahaan yang besar ingin berbicara dengan manager pabrik tentang sesuatu yang urgen. Sang sekretaris manager berkata: "Ia tidak dapat diganggu. Ia sedang dalam pertemuan seperti biasa yang ia lakukan pada jam-jam seperti ini. Sang presiden merespon dengan tidak sabar dan berkata: "katakan kepadanya Sang Presiden ingin bertemu dengannya." Sang sekretaris dengan teguh berkata: "saya diperintahkan dengan keras untuk tidak mengganggunya sementara dia ada dalam pertemuan." Dengan marah Presiden melewati sang sekrataris dengan menyenggolnya dan membuka pintu kantor sang manager. Setelah melihat dengan cepat ia kembali, dengan lembut menutup pintu, dan berkata: "Saya minta maaf!" Sang Presiden mendapati sang manager sedang berlutut di depan Alkitab yang terbuka. Ini adalah cerita yang diambil dari artikel dengan judul "In Conference" yang di tulis oleh M. R. De Haan. Selanjutnya ia mengatakan: "The purpose of a daily devotional time is to stimulate regular, intimate meetings with the King of kings" (tujuan memiliki waktu saat teduk setiap hari adalah merangsang persekutuan yang teratur dan intin dengan Raja dari segala raja). Demikian juga ketika berdoa, Daniel sedang membangun persekutuan yang intim dengan Allah. Hanya orang yang memiliki persekutuan yang intim dengan Allah melalui doa, ia mengenal siapa Allahnya. Jika ia mengenal Allahnya, ia akan tetap kuat (bertahan dalam kepercayaaannya kepada Allah), meskipun banyak kesulitan yang dihadapinya (Bnd. 11:32).
Ditulis Oleh :Pdt. Stephano Ambesa, M.Th
Read More

Fakta-fakta Tentang Jim Caviezel aktor Hollywood (Pemeran Yesus di Film The Passion Of The Christ)

Diposting oleh Andre Primaries on Sabtu, 03 Desember 2011

James Patrick Caviezel atau lebih dikenal dengan nama Jim Caviezel, adalah seorang aktor Hollywood yang terkenal dengan Film “The Passion of The Christ”. Film-lain yang ia bintangi adalah, Bobby Jones in Bobby Jones, Frequency, The Count of Monte Cristo,  Angel Eyes, Déjà Vu and Thin Red Line.

Berikut ini adalah beberapa fakta tentang dirinya yang berhubungan dengan film The Passion Of The Christ : 
  1. Sebelum berperan di film the Passion of the Christ, ia pernah berperan di film drama rimantis  Angel Eyes bersama Jennifer Lopez, dimana dia diharuskan beradegan hot dengan Jennifer
  2. Pada saat ia ditawarkan peran sebagai Yesus Kristus dalam film The Passion Of The Christ, umurnya 33 tahun (sama dengan perkiraan umur Yesus ketika disalibkan).
  3. Singkatan namanya sama dengan sebutan untuk Yesus yang ia perankan (JC : Jim Caviezel, Jesus Christ).
  4. Ia dipilih oleh Mel Gibson untuk peran Yesus karena melihat perannya di film Thin Red Line. Diamana ia berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh.
  5. Ketika adegan penyaliban, Jim terkena sambaran kilat (cuaca pada saat pengambilan gambar pada saat itu sepertinya ideal dengan peristiwa penyaliban Yesus). Ia sempat pingsan beberapa saat dan terbakar. Akan tetapi ia bisa melanjudkan pengambilan gambar  penyaliban tersebut.
Read More

Apa Kata Alkitab-ku Tentangmu Gus? (Puisi untuk Gus Dur)

Diposting oleh Andre Primaries

Apa Kata Alkitab-ku Tentangmu Gus?
(Puisi untuk Gus Dur)

Apa kata Alkitab-ku tentangmu Gus?
Gus…tau ngga?, …kau identik dengan raja Koresy…
Seorang raja Persia, dimana orang-orang Yahudi bisa menaruh harapan padanya! Pada tahun 538 ia umumkan perintahnya yang terkenal, bahwa bangsa Yahudi diijinkan pulang ke Yerusalem dan membangun kembali Bait Allah (2Taw 36:22-23; Ezr 1:1-4).

Gus… tau ngga?, …kau juga identik dengan orang Samaria yang baik hati…
Dengan solidaritas yang tak kenal rasisme kau tolong orang lain, bahkan orang yang tak sepaham denganmu. Kau balut luka, bahkan menyiraminya dengan minyak dan angggur. Tak berhenti sampai di situ,…tetapi juga kaubawa ke tempat yang aman (band.Lukas 10:34).

Gus… tau ngga?, …kau juga identik dengan perwira Italy yang bernama Kornelius...
Seorang bukan Kristen yang berbuat baik terhadap umat Tuhan (Kis 10:1-4).

Gus…tahu ngga?,… bahwa Tuhan-ku mungkin saja mendatangimu sesaat sebelum nafasmu terhenti?!
Karna Alkitabku juga berkata bahwa Tuhan memperhatikan orang-orang yang berbuat kebajikan, terlebih-lebih kepada umat tebusan-Nya.

Gus… tau ngga?, …hari ini kau berada dimana?

Selamat tidur panjang Gus! (Ditulis Oleh : Abraham Sitinjak, S.Th)
Read More

Perbedaan Server USA dan Server IIX

Diposting oleh Andre Primaries

Hosting Amerika (Server USA)

Berikut adalah garis besar plus minus server USA:
  • (+) cepat diakses dari mana saja karena US adalah simpul dari internet dunia
  • (+) pengiriman maupun penerimaan e-mail sangat lancar karena routing ke mailserver-mailserver besar seperti Yahoo, Hotmail, Gmail, dan lain-lain cukup pendek
  • (+) mudah diakses oleh website-website crawler seperti Google, Yahoo, MSN, dan lain-lain
  • (-) kecepatan aksesnya dari dalam negeri (Indonesia) kalah jika dibandingkan dengan server yang berlokasi di Indonesia.

Hosting Indonesia (Server IIX)

Berikut adalah garis besar point-point yang diperolah jika menggunakan hosting server IIX:
  • (+) sangat cepat diakses dari dalam negeri (Indonesia) karena routingnya pendek
  • (+) tidak terpengaruh oleh kondisi konektivitas internasional dari ISP Indonesia yang digunakan pelanggan
  • (-) bandwidth internasional-nya relatif lebih kecil sehingga pengiriman e-mail dengan attachment-attachment besar ke arah mail server di luar seperti Yahoo, Hotmail, Gmail, dan lain-lain sering ter-delay
  • (-) web hosting murah (server iix) ini relatif lebih lambat jika diakses dari luar negeri
Sumber : http://indositehost.com/ (ga lagi iklan lho!! cuman mo cantumin sumber aja)

Berdasarkan pengalam pribadi, waktu ada permasalahan tidak bisa diaksesnya website yang server terletak di luar negeri, website yang saya dihosting di luar negeri tidak bisa diakses sedangkan yang lokasi servernya di Indonesia, tidak ada masalah.
Sebaiknya dalam memilih hosting, pertimbangkan pengunjung website Anda nantinya.Jika pengunjung sebagian besar berasal dari dalam negeri, hosting dalam negeri bisa menjadi pilihan (meskipun biaya sewa hostingnya agak mahal) agar website dapat diakses ketika ada masalah akses internet keluar negeri.
Jika target pengunjungnya luar negeri, server USA bisa menjadi pilihan sehingga aksesnya lebih stabil jika diakses dari berbagai negara. Sumber : vduajari.blogspot.com
Read More