Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Apa Kata Alkitab-ku Tentangmu Gus? (Puisi untuk Gus Dur)

Diposting oleh Andre Primaries on Sabtu, 03 Desember 2011

Apa Kata Alkitab-ku Tentangmu Gus?
(Puisi untuk Gus Dur)

Apa kata Alkitab-ku tentangmu Gus?
Gus…tau ngga?, …kau identik dengan raja Koresy…
Seorang raja Persia, dimana orang-orang Yahudi bisa menaruh harapan padanya! Pada tahun 538 ia umumkan perintahnya yang terkenal, bahwa bangsa Yahudi diijinkan pulang ke Yerusalem dan membangun kembali Bait Allah (2Taw 36:22-23; Ezr 1:1-4).

Gus… tau ngga?, …kau juga identik dengan orang Samaria yang baik hati…
Dengan solidaritas yang tak kenal rasisme kau tolong orang lain, bahkan orang yang tak sepaham denganmu. Kau balut luka, bahkan menyiraminya dengan minyak dan angggur. Tak berhenti sampai di situ,…tetapi juga kaubawa ke tempat yang aman (band.Lukas 10:34).

Gus… tau ngga?, …kau juga identik dengan perwira Italy yang bernama Kornelius...
Seorang bukan Kristen yang berbuat baik terhadap umat Tuhan (Kis 10:1-4).

Gus…tahu ngga?,… bahwa Tuhan-ku mungkin saja mendatangimu sesaat sebelum nafasmu terhenti?!
Karna Alkitabku juga berkata bahwa Tuhan memperhatikan orang-orang yang berbuat kebajikan, terlebih-lebih kepada umat tebusan-Nya.

Gus… tau ngga?, …hari ini kau berada dimana?

Selamat tidur panjang Gus! (Ditulis Oleh : Abraham Sitinjak, S.Th)
Read More

Arielgate

Diposting oleh Andre Primaries on Jumat, 02 Desember 2011

Di tengah maraknya beberapa kasus penting di negara ini, seperti kasus Bank Century, Bibit-Chandra, Susno Duadji, hingga the silent millionaire, Gayus Tambunan; tiba-tiba menyeruak kasus beredarnya dua video porno mirip artis yang melibatkan nama Ariel Peterpan, Luna Maya dan Cut Tari. Pemberitaan mengenai video panas ini pun mengambil porsi yang besar di media, baik cetak maupun elektronik, hingga nyaris tak menyisakan ruang untuk kasus-kasus penting yang saya sebutkan sebelumnya. Ternyata tak hanya di tingkatan nasional, kasus ini pun mendapat perhatian luas dari mancanegara; tak heran beberapa infotainment dengan nada sarkastis mengatakan bahwa impian group band Peterpan untuk go international akhirnya terwujud juga. Jangankan kasus-kasus di atas, gempita World Cup 2010 pun tak kuasa menandingi Arielgate ini; apalagi hanya Djarum Indonesia Open Super Series yang nyaris tak terdengar gaungnya.

Tanpa mengesampingkan asas praduga tak bersalah, mayoritas masyarakat (utamanya yang telah melihat video tersebut) berpendapat bahwa ketiga tokoh dalam dua video tersebut adalah Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari. Pendapat ini kemudian diperkuat oleh Roy Suryo, ahli IT yang diminta bantuannya oleh kepolisian, yang mengatakan bahwa 100% pelaku di dalam video tersebut adalah ketiga pesohor negeri tersebut. Pendapat Roy Suryo ini sekaligus mengukuhkan pendapat beberapa pakar IT sebelumnya yang memberikan persentase kecocokan 99,99%. Meski demikian, beberapa kalangan tak meyakini bahwa pelaku dalam video tersebut adalah ketiga pesohor negeri itu. Kesimpangsiuran itu mulai menemukan titik terangnya, ketika Ariel ditetapkan menjadi tersangka hingga akhirnya menjadi tahanan Mabes Polri. Dukungan Moral untuk Pelanggar Moral

Tanpa mengesampingkan asas praduga tak bersalah dan tanpa maksud untuk menghakimi, Ariel adalah pelanggar moral; tentu yang saya maksud adalah moralitas ketimuran. Memang, moral merupakan suatu kajian yang luas, namun tak dapat dipungkiri bahwa hubungan seks di luar nikah, bukanlah bagian dari budaya Indonesia (Walau tak dapat disangkal bahwa angka freesex di Indonesia terus meningkat). Apa yang dipertontonkan oleh ketiga pelaku dalam video mesum tersebut sangatlah bertolak belakang dengan moralitas ketimuran. Namun apakah itu berarti Ariel harus ditempatkan sebagai seorang pesakitan yang layak menerima segala caci dan maki? belum tentu! Namun juga tak berarti bahwa Ariel tak boleh diubah posisinya dari seorang super star menjadi seorang pelanggar moral! Karenanya kedatangan sejumlah artis dan fans Ariel ke Mabes POLRI patut diperhatikan.

Saat ini Ariel tentulah tidak dalam situasi yang mengenakkan. Kondisi ini akan semakin terasa menyesakkan jika semua pihak meninggalkan Ariel. Tentu yang saya maksudkan adalah saudara, teman, kerabat, dan penggemar yang tidak memiliki motif lain; di luar kuasa hukumnya. Dalam situasi ini, dia sangat membutuhkan dukungan dan kepastian bahwa dia tidak seorang diri. Karenanya kedatangan sejumlah pihak mengunjungi Ariel merupakan hal yang patut disyukuri, sebab mereka tak membiarkan Ariel seorang diri. Namun saya dikagetkan oleh komentar Ahmad Dhani yang mengatakan bahwa mereka yang datang tersebut setuju bahwa Ariel tidak bersalah, sembari menyertakan dalil hukum. Saya kurang jelas, apakah komentar Dani tersebut mewakili dirinya saja atau juga artis-artis lainnya. Kekagetan saya bertambah ketika menyaksikan di layar kaca beberapa fans Ariel berkata tidak akan pernah percaya bahwa pelaku video tersebut adalah Ariel. Benar, bahwa Ariel tidak boleh dibiarkan seorang diri; namun kita juga harus berani menyatakan bahwa Ariel bersalah dan melanggar moral (sebab secara hukum Ariel belum dinyatakan bersalah, karena prosesnya memang masih berjalan). Masyarakat harus berani menjatuhkan sangsi moral kepada Ariel. Sehingga dia benar-benar sadar bahwa dia telah salah. Menurut saya, kedatangan fans Ariel untuk mensupportnya, adalah dukungan yang menunjukkan rapuhnya moral bangsa kita. Para artis bisa berbuat sesuka hatinya, dan tak mendapatkan sangsi moral apa pun. 

Saya teringat beberapa waktu lalu, peristiwa kehamilan Sheila Marcia mendapatkan sorotan yang cukup besar dari infotainment dan banyak kalangan yang bersimpati karena (waktu itu) belum jelas siapa ayah dari bayi yang dikandungnya. ANEH. Beberapa dekade lalu, jika ada anak gadis yang hamil di luar nikah, itu merupakan suatu kesalahan besar dan menjadi aib keluarga; namun kini mendapat simpati besar dari masyarakat. Belum lagi ibunda Sheila yang tanpa merasa bersalah, terus menyebut nama Yesus. Saya berpendapat agar tidak membawa-bawa atribut agama ke dalam masalah seperti ini. Betul bahwa dalam persoalan itu, pelaku pasti membutuhkan kekuatan secara spiritual; namun dengan menyebut dan membawa symbol agama, akan memberi kesan rendah kepada agama tersebut, seolah-olah agama mendukung tindakan asusila seperti itu. Apalagi jika itu dilakukan si pelaku dengan wajah innocent. 

Fakta ini menunjukkan degradasi moral di bangsa kita. Kita sering menganggap bahwa Amerika tak bermoral, namun faktanya kitalah yang demikian. Amerika mengecam Tiger Woods atas perselingkuhannya, namun di negeri ini orang tetap memuja Ariel yang jauh lebih parah dari Woods; sebab Woods dengan berani mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada publik, sementara Ariel terus berjuang mencari pembenaran diri. Edison Chen dengan berani mengakui kesalahannya dan menjatuhkan sangsi kepada dirinya sendiri, dengan mundur dari jagad hiburan. Namun di negeri ini, para fans mendukung Ariel dengan dalih agar tetap berkarya. Harusnya para fans mendukung agar Ariel mengakui kesalahannya dan menjatuhkan vonis kepada dirinya sendiri, seperti yang dilakukan Edison Chen. Katakanlah mungkin Ariel masih ingin berkarya, namun dia harus mundur dari dunia hiburan paling tidak 10 tahun sebagai sangsi moral kepada dirinya.

Betapa jauhnya bangsa kita telah terpuruk. Bukan hanya dari sisi prestasi, tapi dari sisi yang jauh lebih penting; moral bangsa, hal yang dulu sangat dibangga-banggakan oleh bangsa ini. Kita menjadi jauh lebih liberal dari negara-negara liberal, kita jauh lebih kebarat-baratan dibanding Negara barat. Adakah jalan keluar? Yohanes Sirait 30 Juni 2010
Read More

Mengapa "Mereka" Tak Takut Korupsi?

Diposting oleh Andre Primaries

Para pelaku kejahatan korupsi di negara Indonesia ini terus bertambah hari demi hari. Dengan tertangkapnya koruptor yang terdahulu seakan tidak memberikan efek jera kepada pelaku terkemudian. Hampir setiap hari kita mendengar munculnya 'pemain-pemain baru' yang turut meramaikan ruang sidang pengadilan badut-badut 'kemaruk duit' itu. Nampaknya rasa takut sudah tidak ada lagi bagi orang-orang yang hati nuraninya memakai cap "binatang pelahap" ini. Dengan melihat grafik yang terus menaik tajam tentu memicu sebuah pertanyaan kolektif: "Apa gerangan yang menyebabkan terjadinya budaya tidak takut korupsi ini?"

Bukan sesuatu yang mudah untuk menjawab pertanyaan di atas. Dan, kita juga tahu sudah banyak jawaban yang telah diberikan oleh berbagai kalangan, terutama dari empat sudut pandang yang berbeda: politik, hukum, ekonomi, dan moral. Dalam perspektif politik, kita pernah mendengar pandangan bahwa fenomena tidak takut korupsi muncul sebagai akibat dari struktur politik yang mempunyai kekuasaan yang bersifat absolut. Hal ini setidaknya pernah disampaikan secara jelas oleh Lord Action; "Kekuasaan cenderung disalahgunakan sehingga semakin besar kekuasaan yang digenggam maka semakin besar pula peluang untuk disalahgunakan." Kalau kita menggunakan cara pandang politik dalam melihat korupsi, maka korupsi selalu melekat dalam struktur politik yang ditandai oleh fenomena pemusatan kekuasaan, baik dalam bentuk kuasa oligarki (kekuasaan sekelompok kecil), otoritarian dan bahkan totalitarian (kekuasaan pusat). Dalam struktur politik seperti itu, korupsi menjadi fungsional karena cost of politics untuk memperluas, mempertahankan dan memelihara bangun kekuasaan yang telah dibangun menjadi cukup besar.

Penjelasan lain diberikan oleh perpektif hukum, budaya tidak takut korupsi menjadi semakin merajalela, karena hukum tidak pernah ditegakkan. Ketika hukum tidak ditegakkan maka para pelaku korupsi tidak akan pernah mendapatkan hukuman yang setimpal dari perbuatnya dan kosekuensinya tidak akan terjadi efek jera terhadap para pelaku. Ironisnya, hukum yang tidak tegak juga akan memberikan pendidikan yang buruk bagi sebagain warga lainnya, karena sudah dipastikan mereka akan berpikir bahwa peluang untuk melakukan korupsi sudah terbuka lebar di depan mata, tanpa pernah takut pada ancaman hukuman yang memang tidak pernah diberlakukan.

Berbeda dengan pandangan politik dan hukum, perspektif ekonomi justru menekankan bahwa budaya tidak takut korupsi berakar pada masalah kesejahteraan yang belum merata di berbagai segmen masyarakat. Seorang pejabat publik cenderung untuk melakukan tindakan koruptif ketika sistem insentif (tambahan penghasilan) kesejahteraan yang diberikan oleh negara untuk diri mereka dan keluarganya tidak terpenuhi secara layak. Demikian pula yang dialami oleh masyarakat di akar rumput, ketika tingkat kesejahteraan masyarakat masih rendah, maka korupsi menjadi sangat fungsional sebagai bagian dari redistribusi ekonomi ke bawah. Karena tekanan ekonomi, masyarakat bawah cenderung berprilaku koruptif dengan alasan mereka melakukan itu secara terpaksa untuk memenuhi tuntutan kesejahteraan mereka.

Namun di luar perspektif politik, hukum dan ekonomi, ada perspektif lain yang perlu kita renungkan bersama, yakni perspektif moral dan etika. Dalam perspektif moral dan etika secara umum, jawaban atas kemunculan budaya tidak takut korupsi bisa ditemukan dengan menelusuri kembali gejala perubahan nilai yang tengah berlangsung masyarakat kita. Perubahan nilai itu menimbulkan kosekuensi yang mendasar pada perubahan pada perilaku masyarakat sehari-hari. Acuan masyarakat dalam menentukan apa yang disebut baik-buruk sudah mengalami perubahan sejalan dengan hadirnya nilai-nilai baru. Pemahaman tentang gejala perubahan nilai inilah bisa menjadi pijakan dalam memberi penjelasan mengapa terjadi perubahan dalam masyarakat, dari budaya takut untuk melakukan korupsi menjadi tidak takut lagi.

Perubahan nilai seperti apa yang tengah terjadi dalam masyarakat? Perilaku kehidupan masyarakat kita dewasa ini tidak lagi berdasarkan nilai luhur budaya dan prinsip moral yang diajarkan oleh ajaran masing-masing agama, sebaliknya perilaku masyarakat umumnya lebih dikendalikan oleh uang dan kedudukan. Dalam masyarakat yang semakin berorientasi pada materi, uang telah menjadi berhala baru. Seluruh pikiran, perkataan dan tindakan diabdikan untuk mengejar uang sebanyak-banyaknya. Hal di atas menegaskan kembali kecenderungan kontemporer dimana uang (harta) telah sebagai orientasi utama kehidupan masyarakat kita. Bahkan untuk memperoleh harta dan jabatan, seringkali dilakukan dengan mengorbankan orang lain. Dengan demikian, budaya mengejar uang dan kedudukan tidak hanya "merusak" moralitas individu, melainkan sangat menghancurkan peradaban masyarakat.

Setelah mengamati dari berbagai perspektif di atas, lalu bagaimana pula jika dipandang dari perspektif etis teologis? Tentu akan menjadi kajian yang menarik mengingat banyaknya varian dalam menelaah isu ini walaupun juga terdapat kesamaan secara normatif-universal. Inilah bagian dari tugas para pemuka agama untuk merumuskan dan menjabarkannya dengan persepektif etika ajaran masing-masing.
"Perubahan nilai seperti apa yang tengah terjadi dalam masyarakat? Perilaku kehidupan masyarakat kita dewasa ini tidak lagi berdasarkan nilai luhur budaya dan prinsip moral yang diajarkan oleh ajaran masing-masing agama, sebaliknya perilaku masyarakat umumnya lebih dikendalikan oleh uang dan kedudukan"
(By; Abraham Sitinjak)
Read More

Kasta, Kista dan Kusta dalam Gereja

Diposting oleh Andre Primaries on Rabu, 30 November 2011

Sebelum membaca tulisan ini lebih lanjut marilah terlebih dahulu memahami terminologi ketiga istilah di atas kusta, kista dan kusta). Kasta artinya: golongan (tingkat atau derajat) manusia dalam masyarakat beragama Hindu. Ada 5 kasta dalam masyarakat Hindu; brahmana (golongan pendeta), kesatria (golongan bangsawan dan prajurit), paria (golongan rakyat jembel yang hina-dina), sudra (golongan rakyat biasa), waisya (golongan pedagang, petani, dan tukang).

Kista, ini adalah istilah medis yang berarti selaput yang membentuk kantong tertutup, berisi kuman, tumbuh secara tidak normal dalam suatu jaringan atau rongga badan.

Kusta; inilah penyakit yang ditakuti dalam komunitas Israel. Biasanya si penderita dasingkan ke sautu tempat terisolir karena dapat menular. Menurut tradisi masayarakat Ibrani mereka yang terkena dianggap telah dikutuk Tuhan. Biasanyanya dihubungkan sebagai simbol dosa (bnd.Kel 13 dan Kel 14; Luk 18:12-19).

Ketiga istilah di atas saya artikan dalam pengertian yang lebih fleksibel sehingga secara analogi bisa digunakan dala konteks tulisan ini.
Di India, kasta merupakan tradisi turun temurun yang telah mendarah daging. Di negeri 
"ular cobra"  ini, orang sudah terbiasa hidup dengan pola pembedaan menurut kelima golongan yang mereka sebut kasta. Kasta, kali ini saya meminjam kata itu, dan menempatkanya ke dalam konteks kehidupan bergereja di Indonesia, khususnya di kota-kota besar. Hal ini dimaksudkan untuk mengajak kembali melihat lekak-lekuk kemiringan dan ketimpangan gereja dalam mengaktualisasikan kasih Kristus terhadap sesama. Sehubungan dengan kasta, yang berarti "golongan-golongan yang ada dalam jemaat", mari kita persoalkan fakta yang terjadi di lingkungan gereja kita.

Kalau kita mau jujur dan dengan cermat mengamati kehidupan gereja-khususnya di kota besar, maka performance yang ditampilkan walau agak samar-samar adalah: pengkastaan jemaat. "Pengkastaan jemaat" istilah ini menunjuk kepada praktek pembedaan golongan yang ada dalam jemaat. Golongan yang dimaksud bisa berarti golongan menurut ras/suku, atau strata ekonomi. Amatilah secara cermat, lihat dan perhatikan gereja-gereja yang telah berdiri di Jakarta dan di kota-kota besar lainnya. Nampak suatu komunitas jemaat yang tersekat-sekat berdasarkan golongan tadi.

Ada gereja yang jemaatnya kaum miskin. Gereja ini biasanya memiliki anggota jemaat yang ekonominya pas-pas-an. Di antara mereka ada yang berprofesi pedagang kecil atau pekerjaan informal lainnya. Mulai dari penjual sayur sampai penjual rujak cingur ada di sini. Dari yang profesinya sebagai kondektur sampai penganggur juga ada. (dan jangan harap anda bertemu insinyur di dalamnya). Sepintas kelihatan gereja ini diperuntukkan bagi mereka yang kurang mampu, (atau minimal sekedar cukup).

Di sisi yang lain, ada pula gereja yang anggotanya golongan borjuis. Mulai dari entrepreneur (pengusaha), arsitektur, dan insinyur ada di sini. Dokter pun ada, begitu juga pengacara dll. Pokoknya lengkap. Pernah ada yang bilang, wah nih gereja jemaatnya pake sedan semua.

Tentu ada pula gereja yang cukup solidar terhadap keduanya. Inilah potret gereja yang kita lihat di sekeliling kita.Mengapa hal ini perlu dipersoalkan? Karena memang inilah faktanya. Inilah bahaya laten gereja.

Ambil contoh saja, kasus yang baru-baru ini terjadi pada gereja di India. Seperti yang dimuat dalam www.jawaban.com. Tahukan saudara, bahwa ada 1000 jiwa anggota jemaat Kristen kembali menjadi Hindu. Hal itu terjadi lantaran jemaat kecewa karena merasakan adanya kasta-kasta dalam gereja.Untuk lebih lengkapnya lihat informasi yang saya kutip dari situs ini:

Sekitar 1.000 kaum Dalit Kristiani berubah kembali ke Hindu Senin lalu di daerah Selatan India pada perayaan kelahiran ke-117 Bhimrao Ambedkar, seorang pemimpin Dalit yang berjuang demi kebebasan sosial untuk kelompok masyarakat India yang "tidak tersentuh" itu.

Umat Kristiani Dalit dari kota Tirunelveli yang dirubah kembali oleh biksu Hindu Tamil Nadu Council, menurut surat kabar The Times India. Proses formal perubahan kembali ke Hindu melibatkan ritual pertobatan yang diikuti dengan sebuah upacara penyucian.

"Kami akan menyucikan semua yang kembali ke Hindu dengan memercikkan Gangga Theertha (air Gangga) dan Sethu theertha (air sethu)," kata presiden dari partai politik Hindu yang sangat konservatif Makkal Katchia (HMK), Arjuna Sampath, berdasarkan harian AsiaNews.

Rencananya HMK akan mengubah kembali 20.000 umat Kristiani lainnya di Villupuram, bagian India selatan, menurut AsiaNews.

Umat Kristiani Dalit di negara bagian Tamil Nadu mengungkapkan bahwa mereka menghadapi perbedaan kasta. Bulan lalu umat Kristiani yang berkasta tinggi berbenturan dengan Kristen Dalit yang rendah. Dua orang meninggal akibat konflik tersebut. Ketegangan di antara dua kelompok orang Katolik, Dalits dan non Dalit, menjadi sangat buruk sampai-sampai mereka memisahkan tempat pemakaman, dan di dalam gereja, memisahkan bangku-bangku gereja.

"Ini adalah situasi yang patut disayangkan. Saya tidak ingin mengomentari hal ini," kata Pastor S. Lourdusamy, mantan sekretaris eksekutif Konferensi Uskup Katolik India, menurut The Times India. "Saya menanyakan pada Uskup Katolik untuk mengambil langkah-langkah perbaikan. Tetapi tidak ada yang dapat menghentikan perlawanan umat Kristiani Dalit. Ini adalah hasil dari beberapa perubahan-perubahan," katanya.

Pada tahun 2003 Paus Yohanes Paulus II mendesak uskup Tamil Nadu untuk menyelesaikan perpecahan ini.
"Ada beberapa kemiripan dalam sebuah kasta didasarkan pada dugaan di dalam hubungan antara Kekristenan adalah sebuah tanda balasan atas kemurnian solidaritas kemanusiaan, sebuah ancaman kemurnian spiritual dan sebuah gangguan serius bagi misi gereja-gereja injili," lebih lanjut Paus mengatakan.

"Oleh karena itu, kebiasaan atau tradisi yang mengabadikan atau menguatkan kembali pemisahan kasta sebaiknya lebih lagi disusun, sehingga dapat mengekspresikan suatu solidaritas bagi seluruh komunitas Kristen," katanya. "Sebagaimana Rasul Paulus mengajarkan kita, "jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita" (1 Korintus 12:26).

Ini adalah tugas Gereja untuk bekerja tanpa kenal menyerah untuk mengubah hati, membantu semua orang untuk melihat setiap manusia sebagai anak-anak Tuhan, saudara dan saudari di dalam Kristus, dan oleh karena itu merupakan anggota dari keluarga kita sendiri," kata paus waktu itu.

Total jumlah orang Kristiani di India adalah 24 juta. Dimana dalam populasinya, umat Kristiani Dalit berjumlah 15 juta sementara umat Kristiani lain sebanyak 3 juta.

Kasta yang Menjadi Kista

Hingga hari ini jujur saja, banyak gereja masih mengalami ketimpangan dalam menerapkan ajaran Kristus. Kebudayaan pengkastaan bukan hanya ada di India, di Indonesia pun ada, begitu juga di berbagai belahan dunia lain dalam bentuk dan cara yang berbeda. Mungkin saja kelihatan agak samar-samar, namun jujurlah terhadap nurani...dengarkan apa yang ia bisikkan! Kasta telah menjadi kista dalam gereja yang seharusnya tidak membeda-bedakan golongan. Jelas hal itu memperlihatkan bahwa kasih Kristus belum benar-benar tertanam dan dihidupi dalam gereja. Penghayatan jemaat terhadap kasih masih mentah.

Mari berdoa bagi kaum Dalit India, supaya kasih Tuhan itu benar-benar mengubahkan kehidupan mereka, dan menghapus setiap kekecewaan dan luka yang ada dalam hati mereka. Begitu juga bagi gereja di Indonesia. Selayaknyalah dimulai dari para penilik jemaat (pendeta) agar bisa menjadi polopor menggerakan jemaat untuk mengasihi tanpa pandang bulu. Jangan sampai ada jemaat yang kecewa sehingga menjadi anti terhadap gereja.Ingatlah, jika kasta sudah mengkista, maka menyusul kusta yang akan mengaibkan gereja di mata dunia. Tragis dan mengharukan!

(Ditulis Oleh : Abraham Sitinjak, S.Th)
Read More