Tampilkan postingan dengan label Headline. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Headline. Tampilkan semua postingan

Banyak Orang Yang Jadi "Pengecut" Dalam Hal Memaafkan dan Minta Maaf

Diposting oleh Andre Primaries on Selasa, 20 Desember 2011

Pada saat membaca tulisan ini, sudahkah Anda mengampuni kesalahan atau meminta pengampunan atas kesalahan yang telah Anda perbuat terhadap orang lain. Mungkin banyak dari kita yang belum melakukan hal tersebut. Saya sangat tertegur dengan membaca sebuah buku motivasi yang salah satu topiknya Time Will (NOT) Heal. Berikut ini adalah kutipannya.


Ada pepatah yang mengatakan, "Waktu akan mengobati yang terluka." Semua orang merasakan pedihnya sebuah pengalaman pahit, apakah ditinggal kekasih, dihina orang, bahkan sering kali karena kematian seorang yang dekat. Memang kalau dipikir-pikir, suatu hal yang membuat kita sedih sedikit demi sedikit akan berlalu. Namun, tidak sedikit orang yang masih sulit melupakan dendam ataupun kenangan buruk. Ada yang berharap bahwa hal itu akan berlalu seiring dengan waktu, namun buktinya banyak yang tidak dapat melupakan insiden yang lalu bahkan menjadi trauma.
Memang benar, dengan berjalannya waktu, kesakitan dan kepedihan akan berlalu. Namun, hal itu tidak berlalu begitu saja, hal itu berlalu karena Andalah yang membuat keputusan itu. Di dalam hidup ini, kita tidak luput dari orang-orang yang menyakiti perasaan kita dan juga tidak luput berbuat salah pada orang lain, baik sepengetahuan kita maupun tanpa sepengetahuan kita. Merupakan hal yang tidak mudah untuk memaafkan atseorang yang pernah bersalah kepada kita namun yang lebih sulit lagi adalah meminta maaf kepada mereka yang pernah kita sakiti.
Ada pepatah tua yang mengingatkan kita bahwa lebih baik mencari kawan dibandingkan lawan. Pepatah ini benar-benar dipegang teguh oleh seorang tokoh pengampun yang pantas dijadikan contoh, yaitu Nelson Mandela, pemenang Nobel Perdamaian tahun 1993. Mandela adalah sosok pahlawan Afirika yang menentang diberlakukannya pembedaan warna kulit di negaranya. Akibat keberaniannya menentang rezim yang berkuasa pada saat itu, Mandela terpaksa harus mendekam selama 27 tahun di penjara. Namun setelah rezim Apartheid tumbang, Mandela tidak membalas hukuman yang diterimanya kepada rezim tersebut. Ketika Nelson Mandela diangkat menjadi Presiden Afrika Selatan yang ke-11, ia membentuk suatu komite untuk mengusut tuntas kebrutalan yang dilakukan oleh rezim apartheid. Setiap polisi warga kulit putih yang mengaku bersalah di hadapan keluarga korban tidak dihukum.
Suatu hari seorang ibu tua diperhadapkan dengan polisi yang membunuh anak satu-satunya dan suaminya yang tercinta. Ketika ditanya apa yang ingin ia lakukan, wanita renta itu berkata, "Walau-pun saya tidak lagi memiliki keluarga, saya masih memiliki banyak kasih untuk diberikan. " Wanita itu meminta agar si polisi muda mengunjunginya secara berkala sehingga ia merasakannya sebagai kunjungan seorang anak kepada ibunya. Kemudian ia berkata, "Saya ingin menunjukkan kepadanya bahwa pengampunan yang saya berikan adalah sebuah kesungguhan." Polisi muda itu setelah mendengar perkataan si ibu begitu malu hingga ia jatuh pingsan. Cerita ini mengingatkan kita bahwa kemampuan untuk memaafkan hanya dimiliki oleh para juara sejati.
Sikap memaafkan orang-orang yang pernah bersalah pada kita adalah sikap yang dimiliki oleh orang-orang yang berkarakter kuat. Tindakan memaafkan adalah tindakan dari seseorang untuk melupakan kesalahan orang lain, baik diketahui oleh orang yang kita anggap bersalah ataupun tidak diketahuinya. Dengan memaafkan, kita telah meringankan beban pikiran, tenaga, dan waktu kita. Dendam ataupun kebencian adalah hal yang dapat menghambat kemajuan kita. Tindakan memaafkan sering kali jauh lebih bermanfaat bagi si pemaaf dibandingkan bagi yang dimaafkan. Janganlah pasif menunggu dan berharap waktu akan menyembuhkan hati yang terluka, karena Andalah satu-satunya yang berhak melupakan dan mengampuni siapa pun yang bersalah kepada Anda. Maafkanlah mereka  yang menyakiti hati Anda, dengan melakukan hal ini Anda telah maju sehingkah menyongsong hidup yang lebih berharga.
Hal kedua adalah keberanian untuk meminta maaf karena kita melakukan kesalahan. Tindakan ini lebih sulit daripada tindakan yang pertama dan tidak heran hanya orang-orang yang berkarakter lebih kuatlah yang mampu meminta maaf. Banggalah akan diri Anda jika Anda mampu memaafkan orang lain yang bersalah pada Anda dan juga bersiaplah untuk meminta maaf jika Anda yang bersalah. (Champion "101 Tips Motivasi & Inspirasi Sukses Menjadi Juara sejati: Oleh Darmadi Darmawangsa, hal.63-65)


Ketika membaca kutipan ini, saya merasa sangat tertegur karena pada saat itu ada permasalahan yang menuntut saya untuk mengampuni dan meminta maaf. Teguran dari kutipan  ini belum cukup  karena ditambah lagi firman Tuhan yang langsung terlintas di pikiran saya tentang pengampunan


  • ... dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;  Matius 6:12
  • Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Matius 6:14
  • Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu;  Matius 6:15
  • Matius 18:21-35 = Perumpamaan tentang pengampunan dimana Yesus memberikan Perumpamaan tentang tentang seorang hamba yang dihapus hutangnnya oleh raja oleh karena belas kasihan. Akan tetapi hamba yang diampuni tersebut tidak melakukan hal yang sama seperti rajanya. Dia tidak mempunyai belas kasihan kepada hamba yang lain yang berhutang kepadanya. Baca di sini perumpamaannya.
Ditambah dengan firman tersebut rasanya bukan lagi ditegur, akan tetapi dihajar habis-habisan oleh Tuhan. Hati saya sangat berat untuk mengampuni dan meminta maaf karena ada rasa benci, gengsi, merasa diri benar, egois.Dengan berjalannya waktu akhirnya saya putuskan untuk mengampuni (menganggap masalah telah selesai walaupun orang yang bermasalah tidak secara langsung minta maaf) dan meminta maaf kepada orang yang kepadanya saya berbuat kesalahan. Mungkin belum sampai 100% saya melakukan hal tersebut sesuai dengan firman Tuhan.
Read More

Aktivis 1998: Dulu dan Kini

Diposting oleh Andre Primaries on Rabu, 07 Desember 2011

Gerakan rakyat tahun 1998 tak akan berhasil menggulingkan Suharto tanpa peran mahasiswa dan aktivis. Empat mahasiswa Elang Mulya Lesmana, Hafidhin Royan, Hery Hertanto, dan Hendriawan Sie, gugur pada Tragedi 12 Mei 1998.

Siapa saja aktivis 1998, dan apa yang mereka lakukan kini? Inilah mereka, di antaranya:

Pius Lustrilanang
1998: Aktivis LSM yang diculik pada 4 Februari 1998. April 1998, Pius menjadi orang pertama yang berani menceritakan tentang penculikannya. Pengakuan ini menyebabkan dia harus mengungsi ke Belanda demi keamanan. Belakangan diketahui penculikan dilakukan oleh Komando Pasukan Khusus yang dipimpin Prabowo Subianto. (Tempo)

Sekarang: Politikus Partai yang dipimpin Prabowo, Gerindra. Anggota DPR periode 2009-2014 ini terancam dipecat dari partainya karena mendukung pembangunan gedung baru DPR. (sumber)


Heru Cokro
Dulu: Koordinator lapangan dalam pendudukan Gedung DPR/MPR pada Mei 1998.

Kini: Pengusaha di bidang konsultasi manajemen, anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).


Rama Pratama
1998: Ketua Senat Mahasiswa Universitas Indonesia 1997-1998.

Kini: Politikus Partai Keadilan Sejahtera. Disebut-sebut oleh terpidana korupsi Abdul Hadi Jamal dalam sidang suap proyek dermaga di Indonesia Timur. (Tempo)


Munir Said Thalib
1998: Pemimpin Komite untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan. Munir membela para aktivis yang diculik, salah satunya adalah Pius Lustrilanang. (Tempo)

Kini: Diracun di udara dalam penerbangan menuju Belanda, 7 September 2004. Dalang pembunuhnya masih gelap.


Andi Arief
1998: Ketua Senat Mahasiswa Fisip UGM 1993-1998, juga menjadi Ketua Umum Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi Cabang Yogyakarta tahun 1996. Aktivitasnya ini menyebabkan dia diculik oleh Komando Pasukan Khusus yang dipimpin Prabowo Subianto. (Tempo)

Kini: Staf khusus presiden bidang bantuan sosial dan bencana.


Taufik Basari
1998: Aktivis dan mahasiswa fakultas hukum Universitas Indonesia.

Kini: Pengacara kasus-kasus pelanggaran HAM. Tim pengacara Bibit dan Chandra, koordinator tim advokasi lumpur lapindo.

Penulis : Famega Syavira Putri
Sumber : http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/aktivis-1998--dulu-dan-kini.html
Read More

Doa Adalah Gaya Hidup Orang Percaya

Diposting oleh Andre Primaries on Minggu, 04 Desember 2011

Sering kali kita mendengar dan bahkan mempercayai bahwa doa adalah nafas hidup bagi orang percaya. Pernyataan ini hendak mengatakan bahwa tanpa doa, sesungguhnya kehidupan rohani orang percaya telah terganggu, bahkan mungkin telah mengalami kematian. Tanpa doa, kehidupan rohani kita sangat mengerikan (miserable). Akan tetapi di dalam realitas kehidupan yang sesungguhnya, kebenaran pernyataan di atas hanya sebatas kepada pengetahuan intelektual belaka. Kita tahu bahwa doa itu sangat penting, tetapi sering kali kita lalai untuk berdoa atau berdoa hanya jika kita anggap kita perlu. Kalau tidak perlu, dan faktanya kita sering kali tidak memerlukannya, kita tidak berdoa. Seakan-akan doa hanya sebuah pilihan berdasarkan keperluan. Kita semua sebagai orang percaya, tentunya, mengetahui bahwa doa bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah gaya hidup bagi orang percaya.
Doa adalah Gaya Hidup Apa itu gaya hidup? Untuk menerangkan dengan mudah yang dimaksud dengan gaya hidup, kita dapat memperhatikan ilustrasi berikut ini. Bob Sadino adalah seorang pengusaha yang berhasil. Dalam penampilannya di mana saja, ia selalu mengenakan celana pendek. Entah ketika diwawancarai di televisi, entah sebagai model iklan, maupun sebagai bintang sinetron, ia selalu mengenakan celana pendek. Celana pendek menandai seorang Bob Sadino. Inilah gaya hidup.
Setiap hari, ketika di rumah, saya mengenakan celana pendek dan koas singlet. Entah di siang hari yang panas, entah di malam hari yang dingin, bahkan ketika tidur dengan kamar ber-AC, saya mengenakan pakaian itu. Itulah gaya hidup saya. Suatu saat di rumah saya berpakai tidak seperti biasanya, maka anak saya bertanya kepada saya: "Papa mau ke mana? Aleth ikut papa, ya."Saya jawab anak itu: "Papa tidak ke mana-mana." Anak itu menjawab: "Kok, Papa pakai kaos?" Padahal saya hanya mengenakan kaos oblong. Dalam hal ini, gaya hidup saya ditandai dengan celana pendek dan kaos singlet ketika berada di rumah. Jadi gaya hidup adalah ciri yang menjadi bagian yang melekat dalam diri seseorang yang menandai kehidupannya sehari-hari.
Mari kita membuka dan membaca kitab Daniel 6:11. Ayat ini menceritakan tentang Daniel, setelah mendengar bahwa Raja Darius menandatangani surat larangan yang tak dapat diubah kepada siapa saja untuk tidak melakukan permohonan kepada semua dewa atau manusia selain kepada raja sendiri dalam waktu 30 hari ke depan, berlutut, berdoa dan memuji Allah di rumahnya. Ayat ini juga menerangkan bahwa doa yang dilakukan Daniel dengan kata keterangan "seperti yang biasa dilakukannya." Keterangan ini hendak mengatakan kepada kita bahwa Daniel berdoa bukan hanya ketika ia menghadapi larangan yang baru saja ditandatangani Raja Darius. Bagi Daniel, doa adalah sudah menjadi bagian yang melekat dalam diri dan tak dapat dipisahkan. Bagi Daniel, tiada hari tanpa tiga kali sehari bedoa, entah ada atau tidak ada masalah. Doa adalah gaya hidupnya.
Bukankah surat larangan yang dikeluarkan oleh Raja Darius, sesungguhnya adalah hasil dari persekongkolan para pejabat lain yang ingin menjatuhkan Daniel? Mereka tahu bahwa tidak ada satu kesalahan pun dalam diri Daniel, kecuali seperti yang mereka katakan dalam ayat 6: "kita tidak akan mendapat satu alasan dakwaan terhadap Daniel, kecuali dalam hal ibadahnya kepada Allahnya." Melalui ayat ini kita dapat mengatakan bahwa para pejabat lain telah mengetahui bahwa doa telah menjadi ciri yang melekat di dalam diri Daniel dan itu menandai gaya hidup sehari-harinya. Kalau Anda ditanya: "apakah Anda kenal Daniel?" Seharusnya Anda menjawab menjawab: "Daniel yang mana? Daniel yang suka berdoa, ya? Kalau dia, saya kenal."
Martin Luther berkata: "I have so much business I cannot get on without spending three hours daily in prayer" (Saya mempunyai banyak urasan yang tak dapat saya jalankan tanpa menghabiskan 3 jam sehari dalam doa). John Wesley berkata: "God does nothing but in answer to prayer" (Allah tidak mengerjakan apa-apa kecuali menjawab doa). Karena keyakinannya ini ia berdoa dua jam sehari. Markus 1:35 mengatakan: pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana." Apa yang dikatakan Markus adalah gaya hidup Yesus.
Mengapa Doa Harus Menjadi Gaya Hidup? Pertama-tama, doa harus menjadi gaya hidup orang percaya karena doa menyatakan bahwa kita percaya kepada Allah. Larangan yang ditandatangani oleh raja itu memiliki konsekuensi yang berat bagi para pelanggarnya, yaitu dilemparkan ke dalam gua singa (Dan 6:8). Daniel mendengar dan mengetahui perintah larangan dan konsekuensinya, tetapi apa yang dilakukan, yaitu berdoa, bukan semata-mata untuk melanggar larangan Raja. Ia berdoa sebagai bentuk bahwa ia percaya dan mempercayakan dirinya sendiri kepada Allah. Lihat apa yang dituturkan Alkitab: "Lalu sangat sukacitalah raja dan ia memberi perintah, supaya Daniel ditarik dari dalam gua itu. Maka ditariklah Daniel dari dalam gua itu, dan tidak terdapat luka apa-apa padanya, karena ia percaya kepada Allahnya" (Dan 6: 24). Wayne Grudem mengatakan: "prayer expresses our trust in God and is a means whereby our trust in him can increase" (doa menyatakan kepercayaan kita kepada Allah dan doa adalah sarana di mana keprcayaan kita akan dia dapat bertumbuh).
Yang kedua, doa adalah penyembahan. Grudem mengatakan: "Worship is the activity of glorifying God in his presence with our voices and hearts" (penyembahan adalak aktivitas pengagungan Allah di dalam hadirat-Nya dengan suara dan hati kita). Kita kembali pada teks utama kita, yaitu Dan 6: 11. Dalam ayat ini, Daniel berlutut, berdoa, dan memuji Allah. Ketiga aktivitas ini bukan terpisah satu dengan lainnya, melainkan satu kesatuan. Ketika Daniel berlutut untuk beroda, di dalam doa itu Ia memuji Allahnya. Aktivitas yang dilakukannya oleh Raja Darius disebut sebagai penyembahan. Sang Raja berkata: "Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya melepaskan engkau!" (6:17). Sekali lagi Sang Raja berkata: "Allahmu yang kausembah dengan tekun," (6:21). Doa bukan hanya permintaan dan permohonan. Di dalam doa ada pengagungan, ada pemuliaan nama Tuhan.
Ketiga, doa membawa kita pada persekutuan yang lebih mendalam dengan Allah. Sekali lagi, di sini kita mengutip perkataan Grudem. Ia berkata: "prayer is personal communication with God" (doa adalah komunikasi pribadi dengan Allah). Seorang presiden sebuah perusahaan yang besar ingin berbicara dengan manager pabrik tentang sesuatu yang urgen. Sang sekretaris manager berkata: "Ia tidak dapat diganggu. Ia sedang dalam pertemuan seperti biasa yang ia lakukan pada jam-jam seperti ini. Sang presiden merespon dengan tidak sabar dan berkata: "katakan kepadanya Sang Presiden ingin bertemu dengannya." Sang sekretaris dengan teguh berkata: "saya diperintahkan dengan keras untuk tidak mengganggunya sementara dia ada dalam pertemuan." Dengan marah Presiden melewati sang sekrataris dengan menyenggolnya dan membuka pintu kantor sang manager. Setelah melihat dengan cepat ia kembali, dengan lembut menutup pintu, dan berkata: "Saya minta maaf!" Sang Presiden mendapati sang manager sedang berlutut di depan Alkitab yang terbuka. Ini adalah cerita yang diambil dari artikel dengan judul "In Conference" yang di tulis oleh M. R. De Haan. Selanjutnya ia mengatakan: "The purpose of a daily devotional time is to stimulate regular, intimate meetings with the King of kings" (tujuan memiliki waktu saat teduk setiap hari adalah merangsang persekutuan yang teratur dan intin dengan Raja dari segala raja). Demikian juga ketika berdoa, Daniel sedang membangun persekutuan yang intim dengan Allah. Hanya orang yang memiliki persekutuan yang intim dengan Allah melalui doa, ia mengenal siapa Allahnya. Jika ia mengenal Allahnya, ia akan tetap kuat (bertahan dalam kepercayaaannya kepada Allah), meskipun banyak kesulitan yang dihadapinya (Bnd. 11:32).
Ditulis Oleh :Pdt. Stephano Ambesa, M.Th
Read More

Perbedaan Server USA dan Server IIX

Diposting oleh Andre Primaries on Sabtu, 03 Desember 2011

Hosting Amerika (Server USA)

Berikut adalah garis besar plus minus server USA:
  • (+) cepat diakses dari mana saja karena US adalah simpul dari internet dunia
  • (+) pengiriman maupun penerimaan e-mail sangat lancar karena routing ke mailserver-mailserver besar seperti Yahoo, Hotmail, Gmail, dan lain-lain cukup pendek
  • (+) mudah diakses oleh website-website crawler seperti Google, Yahoo, MSN, dan lain-lain
  • (-) kecepatan aksesnya dari dalam negeri (Indonesia) kalah jika dibandingkan dengan server yang berlokasi di Indonesia.

Hosting Indonesia (Server IIX)

Berikut adalah garis besar point-point yang diperolah jika menggunakan hosting server IIX:
  • (+) sangat cepat diakses dari dalam negeri (Indonesia) karena routingnya pendek
  • (+) tidak terpengaruh oleh kondisi konektivitas internasional dari ISP Indonesia yang digunakan pelanggan
  • (-) bandwidth internasional-nya relatif lebih kecil sehingga pengiriman e-mail dengan attachment-attachment besar ke arah mail server di luar seperti Yahoo, Hotmail, Gmail, dan lain-lain sering ter-delay
  • (-) web hosting murah (server iix) ini relatif lebih lambat jika diakses dari luar negeri
Sumber : http://indositehost.com/ (ga lagi iklan lho!! cuman mo cantumin sumber aja)

Berdasarkan pengalam pribadi, waktu ada permasalahan tidak bisa diaksesnya website yang server terletak di luar negeri, website yang saya dihosting di luar negeri tidak bisa diakses sedangkan yang lokasi servernya di Indonesia, tidak ada masalah.
Sebaiknya dalam memilih hosting, pertimbangkan pengunjung website Anda nantinya.Jika pengunjung sebagian besar berasal dari dalam negeri, hosting dalam negeri bisa menjadi pilihan (meskipun biaya sewa hostingnya agak mahal) agar website dapat diakses ketika ada masalah akses internet keluar negeri.
Jika target pengunjungnya luar negeri, server USA bisa menjadi pilihan sehingga aksesnya lebih stabil jika diakses dari berbagai negara. Sumber : vduajari.blogspot.com
Read More

Arielgate

Diposting oleh Andre Primaries on Jumat, 02 Desember 2011

Di tengah maraknya beberapa kasus penting di negara ini, seperti kasus Bank Century, Bibit-Chandra, Susno Duadji, hingga the silent millionaire, Gayus Tambunan; tiba-tiba menyeruak kasus beredarnya dua video porno mirip artis yang melibatkan nama Ariel Peterpan, Luna Maya dan Cut Tari. Pemberitaan mengenai video panas ini pun mengambil porsi yang besar di media, baik cetak maupun elektronik, hingga nyaris tak menyisakan ruang untuk kasus-kasus penting yang saya sebutkan sebelumnya. Ternyata tak hanya di tingkatan nasional, kasus ini pun mendapat perhatian luas dari mancanegara; tak heran beberapa infotainment dengan nada sarkastis mengatakan bahwa impian group band Peterpan untuk go international akhirnya terwujud juga. Jangankan kasus-kasus di atas, gempita World Cup 2010 pun tak kuasa menandingi Arielgate ini; apalagi hanya Djarum Indonesia Open Super Series yang nyaris tak terdengar gaungnya.

Tanpa mengesampingkan asas praduga tak bersalah, mayoritas masyarakat (utamanya yang telah melihat video tersebut) berpendapat bahwa ketiga tokoh dalam dua video tersebut adalah Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari. Pendapat ini kemudian diperkuat oleh Roy Suryo, ahli IT yang diminta bantuannya oleh kepolisian, yang mengatakan bahwa 100% pelaku di dalam video tersebut adalah ketiga pesohor negeri tersebut. Pendapat Roy Suryo ini sekaligus mengukuhkan pendapat beberapa pakar IT sebelumnya yang memberikan persentase kecocokan 99,99%. Meski demikian, beberapa kalangan tak meyakini bahwa pelaku dalam video tersebut adalah ketiga pesohor negeri itu. Kesimpangsiuran itu mulai menemukan titik terangnya, ketika Ariel ditetapkan menjadi tersangka hingga akhirnya menjadi tahanan Mabes Polri. Dukungan Moral untuk Pelanggar Moral

Tanpa mengesampingkan asas praduga tak bersalah dan tanpa maksud untuk menghakimi, Ariel adalah pelanggar moral; tentu yang saya maksud adalah moralitas ketimuran. Memang, moral merupakan suatu kajian yang luas, namun tak dapat dipungkiri bahwa hubungan seks di luar nikah, bukanlah bagian dari budaya Indonesia (Walau tak dapat disangkal bahwa angka freesex di Indonesia terus meningkat). Apa yang dipertontonkan oleh ketiga pelaku dalam video mesum tersebut sangatlah bertolak belakang dengan moralitas ketimuran. Namun apakah itu berarti Ariel harus ditempatkan sebagai seorang pesakitan yang layak menerima segala caci dan maki? belum tentu! Namun juga tak berarti bahwa Ariel tak boleh diubah posisinya dari seorang super star menjadi seorang pelanggar moral! Karenanya kedatangan sejumlah artis dan fans Ariel ke Mabes POLRI patut diperhatikan.

Saat ini Ariel tentulah tidak dalam situasi yang mengenakkan. Kondisi ini akan semakin terasa menyesakkan jika semua pihak meninggalkan Ariel. Tentu yang saya maksudkan adalah saudara, teman, kerabat, dan penggemar yang tidak memiliki motif lain; di luar kuasa hukumnya. Dalam situasi ini, dia sangat membutuhkan dukungan dan kepastian bahwa dia tidak seorang diri. Karenanya kedatangan sejumlah pihak mengunjungi Ariel merupakan hal yang patut disyukuri, sebab mereka tak membiarkan Ariel seorang diri. Namun saya dikagetkan oleh komentar Ahmad Dhani yang mengatakan bahwa mereka yang datang tersebut setuju bahwa Ariel tidak bersalah, sembari menyertakan dalil hukum. Saya kurang jelas, apakah komentar Dani tersebut mewakili dirinya saja atau juga artis-artis lainnya. Kekagetan saya bertambah ketika menyaksikan di layar kaca beberapa fans Ariel berkata tidak akan pernah percaya bahwa pelaku video tersebut adalah Ariel. Benar, bahwa Ariel tidak boleh dibiarkan seorang diri; namun kita juga harus berani menyatakan bahwa Ariel bersalah dan melanggar moral (sebab secara hukum Ariel belum dinyatakan bersalah, karena prosesnya memang masih berjalan). Masyarakat harus berani menjatuhkan sangsi moral kepada Ariel. Sehingga dia benar-benar sadar bahwa dia telah salah. Menurut saya, kedatangan fans Ariel untuk mensupportnya, adalah dukungan yang menunjukkan rapuhnya moral bangsa kita. Para artis bisa berbuat sesuka hatinya, dan tak mendapatkan sangsi moral apa pun. 

Saya teringat beberapa waktu lalu, peristiwa kehamilan Sheila Marcia mendapatkan sorotan yang cukup besar dari infotainment dan banyak kalangan yang bersimpati karena (waktu itu) belum jelas siapa ayah dari bayi yang dikandungnya. ANEH. Beberapa dekade lalu, jika ada anak gadis yang hamil di luar nikah, itu merupakan suatu kesalahan besar dan menjadi aib keluarga; namun kini mendapat simpati besar dari masyarakat. Belum lagi ibunda Sheila yang tanpa merasa bersalah, terus menyebut nama Yesus. Saya berpendapat agar tidak membawa-bawa atribut agama ke dalam masalah seperti ini. Betul bahwa dalam persoalan itu, pelaku pasti membutuhkan kekuatan secara spiritual; namun dengan menyebut dan membawa symbol agama, akan memberi kesan rendah kepada agama tersebut, seolah-olah agama mendukung tindakan asusila seperti itu. Apalagi jika itu dilakukan si pelaku dengan wajah innocent. 

Fakta ini menunjukkan degradasi moral di bangsa kita. Kita sering menganggap bahwa Amerika tak bermoral, namun faktanya kitalah yang demikian. Amerika mengecam Tiger Woods atas perselingkuhannya, namun di negeri ini orang tetap memuja Ariel yang jauh lebih parah dari Woods; sebab Woods dengan berani mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada publik, sementara Ariel terus berjuang mencari pembenaran diri. Edison Chen dengan berani mengakui kesalahannya dan menjatuhkan sangsi kepada dirinya sendiri, dengan mundur dari jagad hiburan. Namun di negeri ini, para fans mendukung Ariel dengan dalih agar tetap berkarya. Harusnya para fans mendukung agar Ariel mengakui kesalahannya dan menjatuhkan vonis kepada dirinya sendiri, seperti yang dilakukan Edison Chen. Katakanlah mungkin Ariel masih ingin berkarya, namun dia harus mundur dari dunia hiburan paling tidak 10 tahun sebagai sangsi moral kepada dirinya.

Betapa jauhnya bangsa kita telah terpuruk. Bukan hanya dari sisi prestasi, tapi dari sisi yang jauh lebih penting; moral bangsa, hal yang dulu sangat dibangga-banggakan oleh bangsa ini. Kita menjadi jauh lebih liberal dari negara-negara liberal, kita jauh lebih kebarat-baratan dibanding Negara barat. Adakah jalan keluar? Yohanes Sirait 30 Juni 2010
Read More

Etika Konseling

Diposting oleh Andre Primaries on Selasa, 29 November 2011

Beberapa hal penting berhubungan dengan Etika dalam Konseling:

 1. Kerahasiaan

Kerahasiaan adalah hal yang sangat penting dalam konseling. Tanpa jaminan kerahasiaan, konseling tidak dapat dimulai dan kalaupun sudah berlangsung, tidak akan berlanjut terus. Batas kerahasiaan hanyalah bila ada nyawa yang terancam hidupnya (nya konseli atau orang lain). Yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah:

a.Privacy

Ini adalah hak seorang konseli untuk dibiarkan (to be left alone) dan menentukan sendiri kapan, dimana dan seberapa banyak ia membuka diri kepada konselornya.

b.Confidentiality

Ini adalah kualitas dan kuantitas hal yang dibukakan kepada konselor dengan janji terucapkan atau tidak dan harapan bahwa hal itu tidak diberitakan kepada orang lain kecuali sesuai dengan tujuannya.

c.Privilege

Ini adalah perlindungan secara hukum untuk tidak melanggar janji dalam kasus pengadilan.

2.Kekudusan

Sebagai seorang konselor Kristen, tidak ada tawar-menawar mengenai kekudusan dalam hubungan dengan konseli. Jelas bahwa hubungan seksual antara konselor dan konseli adalah hubungan yang berdosa. Banyak psikolog, psikiater, dokter dan juga pendeta yang telah jatuh dalam dosa ini. Kerugian yang diderita konseli jauh lebih besar daripada yang diderita konselor.

a.Kerugian pada konseli:

Banyak konseli yang dimanipulasi dalam hal ini mengalami akibat seperti: depresi yang bertambah, kehilangan motivasi, penyesuaian sosial yang berkurang, gangguan emosi yang signifikan serta penggunaan alkohol dan obat yang bertambah. Juga mungkin didapatkan rasa bersalah, bingung, kekosongan dan kesepian, ketidak mampuan untuk mempercayai orang lain, labil dalam emosi, kemungkinan bunuh diri yang lebih tinggi, kemarahan yang dipendam.

Wanita yang terlibat secara seksual dengan konselornya akan kurang percaya dan lebih marah kepada pria secara umumnya. Gejala gangguan sebulan setelah selesai terapi lebih banyak daripada yang tidak terlibat secara seksual. Wanita yang pada masa lampaunya pernah mengalami sexual abuse (aniaya seksual) dan korban pelecehan seksual dan kemudian dalam konseling terlibat secara seksual dengan konselornya akan mengalami gangguan yang paling parah. Luka lama mereka bukannya menjadi sembuh tetapi terbuka kembali.

b. Konselor yang memanipulasi secara seksual:

Beberapa tipe konselor yang memanipulasi secara seksual ialah:

-Menderita gangguan psikosis. Tidak terlalu banyak yang seperti in
-Narsisistik dan Antisosial. Kebanyakan mereka adalah pria yang selalu mencari mangsa di antara konselinya. Bila tertangkap mereka mengaku sungguh-sungguh mencintai konselinya. Sebenarnya konselinya hanyalah obyek pemuasan diri mereka.
-Lovesickness. Kebanyakan konselor yang terlibat secara seksual dengan konselinya memiliki kebutuhan tinggi untuk dicintai dan mengidolakan konselinya. Banyak konselor tengah umur yang mengalami krisis dalam hidup atau keluarganya yang "jatuh cinta" kepada konseli wanitanya yang lebih muda. Mula-mula ia membagikan masalah, kebutuhan dan penderitaannya. Peran yang terbalik terjadi (konseli memenuhi kebutuhan konselor) yang mudah berakhir dengan keterlibatan seksual.
-Masochistic surrender. Di sini konselor membolehkan dirinya diintimidasi oleh konselinya. Permintaan konseli selalu dituruti konselor karena "takut konseli bunuh diri." Membatasi konseli terasa kejam oleh konselornya. Konselor mungkin merasa terjebak dan menunjukkan marahnya kepada konseli. Akibatnya ia kemudian merasa bersalah hingga ketika diminta untuk melayani secara seksual, ia terpaksa menurutinya. Berbeda dengan konselor yanglovesick, disini konselor merasa terjebak dan tidak jatuh cinta kepada konselinya.
Sang konselor yang memiliki kebutuhan besar untuk disanjung dan dihargai, tidak dapat melihat bahwa sanjungan konseli terhadapnya hanyalah kebutuhan kekanak-kanakan.

3. Kepribadian yang memadai

Di samping kedua hal di atas yang harus ada pada seorang konselor, ia perlu juga memiliki ketulusan hati yang tidak tergoyahkan. Ini sesuai dengan kehendak Kristus dalam Matius 5:37. Ia tidak menjadi seorang konselor hanya karena rasa ingin tahunya yang besar. Ia juga tidak manipulatif dengan memanfaatkan orang lain untuk keuntungannya sendiri: uang, fasilitas, pekerjaan, dll.
(Ditulis oleh: Pdt. Jonathan Trisna, D.Th) Sumber : blog.seminaribethel.net
Read More

Jemaat : Jangan "Gagap Teologi"

Diposting oleh Andre Primaries

Judul di atas bukan sebuah peringatan sensasional yang terlalu dibuat-buat. Faktanya berada tak jauh dari sekeliling kita. Bahkan dahulu Rasul Paulus sempat kecewa menghadapinya. Fakta-fakta tersebut teraplikasi dalam kehidupan jemaat dewasa ini, di mana mereka nampak sangat rentan dan kurang bergairah memenuhi tuntutan imannya. Terhadap fenomena itu maka tulisan ini mengajak kita mengamatinya dari dekat. 

"Teologi" dan "Gagap Teologi"
Kita sering mendengar istilah 'teologi' yang biasanya diungkapkan oleh mereka yang berkecimpung dalam lingkup akademi atau pelayanan gerejawi. Definisi kata 'teologi' memang beragam, mulai dari yang sederhana sampai kepada definisi yang abstrak, teoritis dan filosofis. Namun dari setiap perbedaan itu memiliki prinsip dasar yang sama antara satu dengan lainnya. Secara harafiah kata 'teologi/theologia' berasal dari dua kata Yunani, yaitu 'theos' yang berarti Allah dan 'logos' yang berarti 'pengetahuan', 'hikmat' atau 'akal', atau 'lego' (kata kerja) dapat diterjemahkan sebagai 'ucapan', 'susunan', 'berbicara' (to lay, to arrange, to say). Jadi secara harafiah 'teologi' berarti: berbicara tentang Allah atau apa yang dipikirkan atau dikatakan tentang Allah. Bila seorang berkata: "Allah itu maha kuasa", "Allah itu ajaib" dan lain sebagainya, maka ia sedang berteologi. Dengan definisi seperti ini maka semua orang bisa berteologi dan berhak untuk itu.

Dalam iman Kristen ketika seseorang berteologi, maka yang menjadi sumber (wahyu) pengetahuan tentang Allah itu sendiri adalah Alkitab. Bila teologi dihubungkan dengan Alkitab maka teologi identik dengan pembelajaran Alkitab. Pembelajaran di sini mencakup bagaimana meyelidiki ayat-ayat Alkitab sehingga dapat ditemukan maksud ayat tersebut. Dalam penyelidikan itu diperlukan juga kemampuan menafsir ayat-ayat Alkitab atau yang dalam studi teologi disebut dengan "eksegese". Namun dalam perkembangannya, pengertian yang benar dan utuh tentang kata 'teologi' mengalami pergeseran (distorsi) arti di tengah-tengah jemaat masa kini.
Bagi para pendeta kata "teologi" bukanlah suatu yang asing, tetapi bagi mereka yang merasa dirinya sebagai jemaat awam terasa kurang familiar di telinganya. Bagi mereka, 'teologi' sering diidentikan dengan sesuatu yang sulit dan berat untuk dipahami, itu hanya mungkin untuk mereka yang berkiprah dalam lingkup akademis dan kaum intelektual saja. Ada pula yang memandang teologi dengan sinis dan menganggapnya sebagai ilmu yang menyimpang dari kebenaran Alkitab atau sekedar ajang permainan otak belaka, yang melahirkan filsafat kosong, dan berbagai statement lainnya. Tetapi apakah benar demikian? Asumsi ini mengawali kesalahan konsep tentang arti kata 'teologi' yang sebenarnya. Bahkan telah memposisikan teologi (berteologi) sebagai kegiatan ekslusif yang tak mungkin dijangkau jemaat awam. Jemaat merasa tak perlu lagi menjadikan teologi sebagai bagian dari pembelajaran/pemuridan orang percaya. Lambat laun persepsi seperti ini hanyut dalam gelombang sejarah umat Tuhan di berbagai tempat di muka bumi.

Anggapan teologi sebagai "sesuatu yang sulit dijangkau", "bersifat akademis" dan lain sebagainya, telah mendarah daging di benak jemaat, yang pada akhirnya cenderung akan menjadikan jemaat yang alergi dengan teologi. Padahal sesungguhnya teologi tidak meluluterkait dengan predikat seperti itu. Kecenderungan-kecenderungan itu kelak akan membawa jemaat kepada suatu keadaan yang saya sebut "gagap teologi" (disingkat:"gapteg"). Istilah ini hanya sebuah plesetan dan belum terdaftar dalam khasanah bahasa Indonesia yang baku, namun dalam arti konotatifnya jelas, yaitu menunjuk kepada kondisi seseorang yang tidak banyak memahami pengetahuan tentang kebenaran firman Tuhan yang tertuang dalam ayat-ayat Alkitab. Termasuk juga di dalamnya ketidakmampuan untuk menyelidiki/menelaah Alkitab sendiri dengan baik.

Melihat Realitas, Menemukan Fakta
Fakta adanya jemaat yang 'gagap teologi' bukan berita baru. Dalam realitas di lapangan kita masih melihat banyak sekali jemaat yang belum memiliki kemampuan untuk menelaah firman Tuhan secara baik dan benar. Ketergantungan mereka terhadap bantuan hamba-hamba Tuhan nampaknya masih sangat kuat. Session tanya jawab yang digelar di berbagai kesempatan nampaknya masih merupakan jembatan satu-satunya untuk mencari jawaban atas pertanyaan jemaat. Sungguh sangat memprihatinkan jika kita menjumpai ada banyak jemaat yang sebenarnya boleh dikatakan sudah cukup lama menjadi Kristen, lantas menanyakan apa yang semestinya tak perlu ditanyakan. Sebenarnya jika saja mereka mau belajar dengan rajin dan memiliki sedikit bekal untuk mengerti cara menyelidiki/menelaah ayat-ayat Alkitab, maka tak perlu lagi bertanya kepada hamba Tuhan. Dalam hal ini saya tidak mengingkari adanya ayat-ayat yang sulit dipahami oleh jemaat.

Hal yang mirip dialami juga oleh rasul Paulus ketika berhadapan dengan jemaat Ibrani. Suatu kali rasul Paulus mengeluh dan kecewa melihat keadaan jemaat Ibrani yang mengalami stagnasi dalam memahami firman Tuhan. Keluhan sekaligus teguran itu tercatat dalam kitab Ibrani pasal 5 ayat 12-13 yang bunyinya: "Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil". Dalam mengantisipasi masalah ini maka Rasul Paulus mencoba menawarkan sebuah program belajar lanjutan (advanced) kepada mereka. Untuk itu dia berkata, "Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh. Janganlah kita meletakkan lagi dasar pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dan dasar kepercayaan kepada Allah, yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang-orang mati dan hukuman kekal. Dan itulah yang akan kita perbuat, jika Allah mengizinkannya" (Ibr 6:1-2). Undangan atau himbauan ini tentu bukan berlaku bagi jemaat saat itu saja, melainkan bagi kita juga. Dengan kata lain Paulus mengajak semua jemaat dari berbagai generasi di seluruh dunia agar menjadi jemaat yang terus bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan dan memiliki kemampuan untuk menyelidiki Alkitab secara pribadi.

Di sinilah hamba-hamba Tuhan selaku pembimbing jemaat perlu menyoroti seberapa besar kesadaran jemaat akan pentingnya pembelajaran Alkitab secara pribadi yang menurut pandangan saya sampai hari ini masih belum maksimal dan jauh dari ideal. Saya masih melihat adanya sindrom yang telah berakar begitu kuat di kalangan jemaat. Nampaknya masih ada anggapan bahwa hamba Tuhan sajalah yang perlu mendalami Alkitab sedalam-dalamnya, sementara jemaat secara pasif menunggu apa yang mau disampaikan oleh hamba Tuhan itu. Ini menjadi sangat naif jika masih terus dibiarkan dalam kehidupan jemaat. Dampak yang akan dirasakan oleh gereja tentu bukan sepele. Kita perlu belajar dari sejarah kelam masa lalu di kalangan gereja Roma Katolik. Roma Katolik pernah menggoreskan kenangan kelabu bagi pertumbuhan iman jemaatnya. Pada tahun 1229 Council of Valencia, membuat keputusan yang menyatakan bahwa orang awam dilarang memiliki Alkitab. Yang boleh dimiliki hanyalah kitab Mazmur dan buku doa Roma Katolik, dan itupun harus dalam terjemahan bahasa Latin, yang jelas-jelas tidak dimiliki oleh jemaat awam karena memang belum dibuat terjemahannya. Keputusan ini telah melukai hati sebagian orang yang sungguh-sungguh ingin mencari kebenaran firman Tuhan dalam Alkitab. Alasan pelarangan itu disebabkan Roma tidak menyenangi pemahaman Alkitab baik untuk imam/pastor maupun untuk jemaat, karena mereka mendapatkan terlalu banyak hal di sana (dalam Alkitab) yang tidak cocok/sesuai dengan ajaran gereja mereka. Itulah sebabnya jika sekarang ada gereja Katolik atau seorang pastor yang menganjurkan jemaat biasa membaca Alkitab, sebetulnya itu adalah suatu penyimpangan dari ajaran Roma Katolik yang sesungguhnya (lihat dalam: 'Roman Catholicism', Loraine Boettner, Presbyterian and Reformed Publishing,New Jersey 1982 pada halaman 67-68). 

Memang pristiwa ini sudah lama terjadi, tetapi kekuatan sindrom atau pengaruh yang dibiaskan kepada generasi sesudah itu adalah "Adanya kecenderungan kuat bahwa penyelidikan/penelaahan ayat-ayat Alkitab hanya pantas dilakukan oleh kaum klerus (rohaniawan) saja". Dalam perjalanan sejarah yang panjang, mungkin saja terjadi kristalisasi atas anggapan bahwa penyelidikan/penelaahan Alkitab itu tidak menjadi suatu yang mutlak bagi jemaat. Dalam reaksi yang lebih konkret dan relevan di masa sekarang, maka akan terdengar seruan "Ah, itu kan tugas hamba-hamba Tuhan, Saya hanya jemaat biasa lho!", dan sebagainya. Dengan demikian mereka telah melepas tanggung jawabnya sebagai orang percaya yang seharusnya juga bertanggung jawab untuk menggumuli setiap kebenaran yang dipelajarinya setiap hari dari Alkitab. Jika ini dibiarkan maka sebagai akibatnya jemaat menjadi malas mempelajari Alkitab yang berbuntut pada rentannya iman jemaat terhadap resiko penyesatan.

Bernostalgia ke Jemaat Perdana
Benarkah penyelidikan/penelahan Alkitab hanya untuk kalangan hamba Tuhan saja? Jika kita kembali melihat sejarah jemaat yang perdana (mula-mula), maka kita akan menemukan adanya profil jemaat yang kritis dan mapan dalam penyelidikan Alkitab. Itu dapat kita lihat dalam Kisah Rasul 17:10-15, terlebih khusus pada ayat 11; "Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian."

Dalam kisah ini kita dapat menemukan adanya jemaat yang kritis terhadap ajaran-ajaran yang pernah didengarnya. Mereka giat untuk menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahuinya apakah itu benar demikian. Johan Albrecht Bengel pernah mengatakan bahwa 'karakteristik agama yang sejati dan benar adalah agama yang terbuka untuk diteliti dan dianalisa, dan kemudian menuntut suatu hasil keputusan'. Pernyataan ini dibuat oleh Bengel pada tahun 1742. Namun kira-kira 17 abad sebelumnya, prinsip ini sudah diyakini oleh orang-orang Kristen yang berada di Berea. Firman Tuhan yang mereka terima dari pemberitaan Paulus tidak asal diterima begitu saja namun mereka menyelidiki firman Tuhan sendiri. Terlihat jelas bahwa mereka adalah jemaat yang terbuka kepada doktrin/ajaran namun tidak kepada indoktrinasi (sistem pengajaran yang bersifat sewenang-wenang dan menuntut penerimaan ajaran itu tanpa sikap kritis).

Dokter Lukas penulis kitab ini mencatat dengan jelas sekali bahwa jemaat di Berea ini setiap harinya menyelidiki Kitab Suci. Kitab suci yang dimaksud di sini adalah kitab Perjanjian Lama yang ditulis dalam bahasa Yunani (septuaginta) yang biasa disimpan di rumah-rumah sembahyang orang Yahudi (sinagoge). Tindakan jemaat di Berea merupakan teladan bagi semua jemaat yang mendengarkan pengkhotbah dan guru yang menguraikan ajaran Alkitab. Tidak ada satu penafsiran atau ajaran apapun yang harus diterima secara pasif. Sebaliknya, harus diperiksa secara cermat dengan menyelidiki Alkitab sendiri. Kata "menyelidiki" diterjemahkan dalam teks Yunani: 'anakrino' yang artinya 'mengayak', 'memeriksa','menilai', 'menguji', 'menghakimi', 'menyelidiki dengan sangat teliti dan cermat'. Kata 'menyelidiki' yang dipakai di sini setara dengan sistem penyelidikan yang dipakai bidang hukum untuk menemukan kebenaran secara akurat. Mereka bersikap kritis untuk menemukan kebenaran yang utuh dan murni. Dan yang lebih menarik lagi mereka menyelidiki Kitab Sucinya setiap hari.Dalam konteks kehidupan bergereja sekarang ini, biasanya jemaat dianjurkan untuk membaca Alkitab dan renungan harian sebagai konsumsi setiap hari. Itu memang baik. Tetapi jika kita bandingkan dengan apa yang dilakukan oleh jemaat di Berea adalah hal yang berbeda. Kata 'menyelidiki' (anakrino) memiliki nilai yang lebih tinggi dari pada sekedar membaca Alkitab dan merenungkannya (kontemplasi).

Menyelidiki Kitab Suci (Alkitab) diperlukan ketelitian, kecermatan, bahkan kehausan akan kebenaran yang murni. Memang bukanlah hal yang mudah, selain perlu bimbingan Roh Kudus, juga memerlukan kemampuan menafsir ayat-ayat Alkitab dengan menggunakan kaidah-kaidah penafsiran yang benar. Jika kita kembali melihat konteks pada saat itu, maka faktor yang melatarbelakangi semangat jemaat untuk bertindak kritis terhadap setiap ajaran ialah karena banyaknya pengaruh pengajaran yang menyesatkan. Gnostik adalah salah satu agama yang banyak dianut orang Yunani dan merupakan tandingan bagi kekristenan pada masa itu. Jiwa kritis dan semangat "memburu kebenaran sejati" yang melekat pada jemaat di Berea merupakan suatu keunggulan tersendiri sehingga layak untuk menerima kualifikasi sebagai jemaat terbaik. Lukas penulis kitab ini memberikan perbandingan antara jemaat di Berea yang adalah lebih baik dibanding jemaat di Tesalonika yang telah menolak pemberitaan Paulus (13:51-52; Kis 17:1-9). Kata "lebih baik hatinya" (KJV: These were more noble) menggunakan teks Yunani: 'eugenesteroi'. Secara harfiah berarti 'lebih baik' atau 'lebih mulia'. Tetapi di sini kata itu digunakan untuk menunjuk kepada suatu mutu pikiran dan hati, yaitu ketulusan (tidak dibuat-buat) untuk berkeinginan menguji kebenaran suatu doktrin yang telah didengar.

Masih dalam ayat yang sama juga dikatakan "karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati". Kalimat ini bisa merupakan sebuah alasan sehingga mereka disebutkan sebagai jemaat yang 'lebih baik hatinya', dan sekaligus merupakan penyebab sehingga mereka bersemangat untuk menyelidiki Kitab Suci guna mendapatkan kebenaran atau kepastian dari apa yang disampaikan oleh Paulus dan Silas saat itu. Sudah barang tentu bagi kita yang hidup sekarang dapat mempercayai pemberitaan Paulus dan Silas tanpa ragu. Tetapi jemaat pada saat itu benar-benar butuh peneguhan atau klarifikasi sehingga dapat memastikan bahwa suatu ajaran itu benar-benar tidak menyimpang dari Kitab Suci mereka. Mereka mulai mencocokan nubuat-nubuat dalam kitab Perjanjian Lama mengenai ke-Mesias-an Yesus Kristus seperti yang disampaikan oleh rasul Paulus dan Silas.

Ada dua hal yang membuat jemaat di Berea berbeda dari jemaat Tesalonika. Pertama, mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati. Kedua, mereka menyelidiki Kitab Sucinya setiap hari. Inilah potret jemaat perdana yang pantas menerima acungan jempol dan patut diteladani. Korelasi fenomena jemaat di Berea dan jemaat modern saat ini berpangkal pada persamaannya dalam hal menghadapi pengaruh-pengaruh ajaran tidak sehat. Dalam ayat 13 ditulis; Tetapi ketika orang-orang Yahudi dari Tesalonika tahu, bahwa juga di Berea telah diberitakan firman Allah oleh Paulus, datang jugalah mereka ke sana menghasut dan menggelisahkan hati orang banyak. Keadaan yang digambarkan Lukas di sini benar-benar mengingatkan situasi gereja yang sedang kita hadapi sekarang. Kesimpangsiuran ajaran dan berbagai doktrin/ajaran tidak sehat semakin 'menggurita' di dalam gereja. Berbagai modus penyesatan terselubung datang menghasut jemaat yang pada akhirnya menggeser kemurnian imannya. Tragisnya jemaat akan dibuat menjadi opurtunis dan egois, bukan menuruti kehendak Tuhan melainkan mengikuti hawa nafsunya saja. Bukan theosentris (berpusat pada Allah) tetapi antroposentris (berpusat pada manusia/diri sendiri). Tuhan dieksploitasi sedemikian rupa untuk memperoleh keuntungan pribadi. Begitu juga ayat-ayat Alkitab dimanipulasi demi maksud-maksud tertentu. Ini hanyalah sebagian kecil ciri-ciri dari penyesatan terselubung dalam gereja Tuhan (Sebaiknya baca buku : "Penyesatan Terselubung Dalam Gereja" oleh Erastus Sabdono, penerbit: Sola Garcia Publisher).

Menemukan yang Ideal
Pesan penting dari eksegese teks Kis 17:11 di atas semakin meneguhkan kita untuk berpikir: "Perlu adanya kemapanan/kemandirian jemaat untuk memahami Alkitab secara pribadi agar jemaat kritis terhadap segala ajaran yang didengarnya". Itulah sebabnya kualifikasi jemaat di Berea dapat dijadikan sebuah acuan sebagai jemaat ideal, yaitu jemaat yang siap mengahadapi situasi masa depan gereja di mana terdapat banyak sekali intrik-intrik penyesatan yang datang luar maupun dari dalam. Aplikasi gagasan ini bisa menjadi tindakan preventif-antisipatif terhadap resiko penyesatan. Bisa diprediksi bahwa resiko tertinggi berada di pihak jemaat. Beberapa tahun silam kita dikagetkan dengan berita bahwa 'Saksi Yahova' yang telah beberapa tahun lalu dilarang oleh pemerintah, kini diijinkan kembali keberadaanya di Indonesia. Pada 1976, Jaksa Agung pernah melarang aktivitas kelompok ini di Indonesia, namun pada tahun 2000 pelarangan itu dicabut kembali oleh presiden Abdurrahman Wahid. Saksi Yahova hanyalah salah satu dari sekian banyak bentuk penyesatan yang datang dari luar gereja.

Lebih berbahaya lagi jika penyesatan justru muncul dari mimbar gereja secara terselubung. Tentu kesiapan jemaat untuk membentengi diri sangat ditentukan oleh kemampuanya dalam menganalisa setiap doktrin/ajaran yang didengarnya. Untuk membedakan apakah seseorang membawa ajaran yang sehat atau tidak, harus menggunakan ukuran Firman Tuhan yang ditulis oleh Alkitab. Cara menilai penyesat tidaklah semata-mata hanya dengan melihat tabiat orang itu. Memang pada akhirnya kita dapat membedakan nabi palsu atau tidak tergantung dari "buahnya" (Mat 7:15-23). Namun dalam kondisi tertentu sangat perlu klarifikasi secepatnya sebelum terjebak lebih jauh ke dalam penyesatannya. Oleh sebab itu jemaat sebagai 'sasaran tembak' penyesatan tersebut, harus memiliki kemampuan untuk menganalisa ajaran tersebut serta menyelidiki di dalam Alkitab apakah ajaran yang didengarnya itu benar demikian. Di sinilah jemaat perlu memiliki kemapanan untuk memahami Alkitab secara pribadi. Hamba Tuhan (pendeta, gembala sidang) memang sebagai nara sumber pembelajaran teologis, tetapi tidak setiap waktu hamba Tuhan dapat mendampingi jemaat. Kecermatan dan kemampuan jemaat untuk menganalisa suatu ajaran, sangat menolong banyak bukan saja untuk menghadapi bahaya penyesatan tetapi juga bagi kedewasaan rohaninya.

Menantang Hari Esok
Dengan merenungkan uraian panjang lebar di atas, maka jemaat harus sadar dengan situasi yang sedang menimpa gereja-gereja hari-hari ini. Untuk itu jemaat tak boleh "gagap teologi". Jika ingin mempunyai iman yang berintegritas seseorang haruslah sungguh-sungguh memahami apa yang ia yakini dengan keterbukaan dan dengan seluruh kemampuan berpikir kritis untuk 'menguji' seluruh kebenaran ajaran itu. Oleh sebab itu semangat untuk menyelidiki Alkitab secara pribadi perlu terus menerus dikembangkan dalam kehidupan setiap hari. Kritis terhadap setiap ajaran yang kita dengar akan membuat kita lebih giat menyelidiki Alkitab dan segala kebenarannya. Untuk itu diperlukan kemapanan/kemandirian untuk memahami Alkitab secara pribadi. Hamba Tuhan (pendeta, gembala sidang) memang sebagai nara sumber pembelajaran teologis, namun jemaat juga bertanggung jawab untuk memiliki kemapanan dalam penyelidikan/penelaahan Alkitab secara pribadi.

Demikian pula bagi hamba-hamba Tuhan agar selalu mengingatkan semuanya itu tanpa merasa jenuh. Khotbah yang Alkitabiah harus menjadikan setiap pendengarnya orang yang gemar belajar Firman Allah. Jika gereja di analogikan sebagai "sekolah Alkitab" seperti yang pernah dikatakan oleh Peter Wagner, maka antara guru dan murid telah memiliki tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Hamba Tuhan (pendeta, Gembala Sidang, dll) yang adalah guru jemaat, harus dengan kesabaran terus membimbing jemaat dengan pengetahuan dan dan ajaran yang sehat. Demikian pula sebaliknya, jemaat dalam statusnya sebagai murid juga harus menjadi murid yang baik dengan rajin belajar dan mematuhi segala yang diperintahkan gurunya. Jika hubungan keduanya dilakukan dengan tulus maka akan lahir sebuah generasi yang tangguh siap menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Soli Deo. http://blog.seminaribethel.net/tulisan-99-jemaat--jangan-gagap-teologi.html
Read More