Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Alkitab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Alkitab. Tampilkan semua postingan

Lukas 11:9-13, Meminta Roh Kudus?

Diposting oleh Andre Primaries on Minggu, 04 Desember 2011

Kitab injil Lukas adalah hasil karya dari dokter Lukas yang juga menulis kitab Kisah Para Rasul. Ajaran Lukas tentang Roh Kudus mempunyai tempat tersendiri. Hal ini dapat terlihat oleh karena penyebutan Roh Kudus lebih banyak dari pada di dalam injil sinoptik lainnya. Penekanan Roh Kudus tersebut dapat terlihat dalam diri Yohanes Pembaptis dan Yesus sendiri, yaitu ketika mereka berada dalam kandungan ibu mereka. Peranan Roh Kudus dalam seseorang menurut Lukas memberdayakan seorang pelayan Tuhan untuk menjalankan sebuah misi. Jadi bisa dikatakan bahwa Roh Kudus yang ditekankan oleh Lukas adalah untuk pelayanan.

Dalam pasal 11 ini dimulai dengan cerita ketika Yesus sedang berdoa di suatu tempat dan ketika ia berhenti berdoa, salah seorang murid-Nya meminta kepada Yesus untuk diajarkan berdoa sama seperti Yohanes Pembaptis mengajarkan berdoa kepada murid-muridnya. Sesudah itu Yesus mengajarkan mereka berdoa yang di dalam injil Matius dikenal dengan doa "Bapa kami". Akan tetapi di dalam injil Lukas tidak selengkap dengan Matius. Lukas mengakhiri doa tersebut dengan kata, dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.", berbeda dengan Matius yang menulis doa Bapa Kami dengan kalimat penutup. Sepertinya dalam tulisannya, Lukas ingin langsung sampai kepada apa yang ia tekankan yaitu tentang meminta sesuatu.

Ayat dalam Lukas 11:5-8 adalah perkataan Yesus yang merupakan bagian dari jawaban-Nya atas permintaan murid-murid-Nya tentang bagaimana berdoa yaitu suatu analogi tentang seseorang yang meminta roti kepada sahabatnya pada tengah malam. Orang yang dimintai roti tersebut tidak menolak apa yang menjadi permintaan sahabatnya yang tidak tahu malu itu pada waktu tengah malam. Ia tetap memberikan apa yang diminta sahabatnya. Sesudah itu Lukas membawa pemikiran pembacanya lewat analogi tersebut, ia langsung memberikan suatu ajaran Yesus tentang meminta sesuatu (ayat 9-10). Dalam analogi tersebut para pembacanya mengetahui bahwa sebuah permintaan akan dikabulkan meskipun sebenarnya si pemberi roti itu merasa terganggu dengan permintaan tersebut. Jelas bahwa analogi tentang seorang sahabat yang meminta roti adalah untuk mempertegas ayat 9-10 tentang meminta dan pengabulannya.

Dalam ayat 9 bisa merupakan ajakan atau perintah Yesus dalam hal meminta sesuatu dan kepastian untuk mendapatkan hasilnya dari usaha-usaha tersebut. Ayat 10 adalah akibat jika meminta sesatu atau janji bagi mereka yang melaksanakan apa yang diperintahkan untuk dilakukan itu (kegiatan meminta, mencari, dan mengetuk). Bentuk future memberikan pengertian bahwa pemenuhan itu akan dilaksanakan dan digenapi.

Jika dilihat konteks selanjutnya dalam Lukas 11:11-13 maka kembali lagi Yesus memberikan suatu contoh bapa yang jahat yang bisa memberikan pemberian yang baik kepada anaknya. Hubungan antara bapak dan anak adalah sebuah gambaran hubungan yang dekat dan merupakan hal yang biasa apabila seorang anak meminta sesuatu kepada bapaknya. Kemudian Ia bandingkan lagi bapa yang jahat ini dengan Bapa di Sorga yang artinya bapa yang jahat tahu memberikan hal yang baik kepada anaknya apa lagi jika meminta kepada Bapa di sorga. Yang menjadi pertanyaan apa yang menjadi permintaan itu? Tentu ini semua harus melihat konteksnya yang dapat dilihat dalam Lukas 11:13. "Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

Dalam injil Matius berbeda dengan injil Lukas. Matius menggunakan hal "yang baik" (good thing), sedangkan Lukas menggunakan Roh Kudus. Kemungkinan Lukas atau sumbernya membuat ungkapan "hal yang baik" lebih jelas dalam pandangan gereja mula-mula atas pengalaman dengan Roh Kudus, yang memainkan peranan yang besar dalam berkat Allah. Penyebutan Roh Kudus ini merupakan pencantuman doa untuk datangnya Roh Kudus. Ayat 13 adalah ayat penutup pembahasan dari ayat pertama dan ayat selanjutnya tidak membahas tentang doa atau meminta akan tetapi membahas tentang Yesus menyembuhkan orang yang bisu. Ayat 13 adalah inti dari apa yang ingin Yesus sampaikan kepada murid-murid-Nya menurut Lukas. Dilihat dari konteksnya maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa yang diminta kepada Bapa menurut perikop ini adalah Roh Kudus.

Lukas dalam tulisannya bukanlah mengajak pembacanya untuk meminta hal-hal lain, akan tetapi dalam ayat 13 ia menekankan meminta Roh Kudus dan Bapa akan memberikan-Nya. Matthew Henry berpendapat: we must ask for the Holy Spirit, not only as necessary in order to our praying well, but as all spiritual blessings are included in that one. Jelas sekali bahwa Roh Kudus adalah hal yang penting dan harus diminta, dan dalam konteks Lukas Roh Kudus berkarya untuk kepentingan pelayanan orang-orang yang dipenuhi dengan Roh Kudus.

Dengan meminta maka akan diberikan, dengan mencari maka akan ditemukan dan dengan mengetuk maka akan dibukakan. Ini merupakan suatu akibat atau janji jika melaksanakan apa yang telah Yesus perintahkan (mintalah, carilah, ketuklah) untuk dilakukan. Jika terus meminta Roh Kudus maka Bapa di sorga akan memberikannya sebab ini adalah perintah dan Dia berjanji akan memberikan Roh Kudus itu.

Meminta adalah bentuk doa yang Yesus berikan untuk dilakukan oleh para pendengar-Nya pada saat itu. Perkataan Yesus dalam teks Lukas 11:9, mengajarkan untuk terus meminta kepada Bapa di surga, dan Dia akan memberikannya apa yang telah diminta itu. Dalam permohonan atau doa meminta, Bapa berjanji akan memberikannya karena Dia sendiri yang mengajak untuk meminta, oleh sebab itu firman tersebut harus diyakini bahwa Bapa akan menggenapinya.

Dalam Lukas 11:9-13 berbicara tentang meminta Roh Kudus karena sesuai dengan ayat 13. Lukas menekankan hal ini karena dalam injil Lukas selau menonjolkan fungsi Roh Kudus dalam pelayanan. Roh Kudus dalam Lukas berfungsi untuk memberdayakan seseorang di dalam pelayanan yang ia lakukan.
Read More

Doa Adalah Gaya Hidup Orang Percaya

Diposting oleh Andre Primaries

Sering kali kita mendengar dan bahkan mempercayai bahwa doa adalah nafas hidup bagi orang percaya. Pernyataan ini hendak mengatakan bahwa tanpa doa, sesungguhnya kehidupan rohani orang percaya telah terganggu, bahkan mungkin telah mengalami kematian. Tanpa doa, kehidupan rohani kita sangat mengerikan (miserable). Akan tetapi di dalam realitas kehidupan yang sesungguhnya, kebenaran pernyataan di atas hanya sebatas kepada pengetahuan intelektual belaka. Kita tahu bahwa doa itu sangat penting, tetapi sering kali kita lalai untuk berdoa atau berdoa hanya jika kita anggap kita perlu. Kalau tidak perlu, dan faktanya kita sering kali tidak memerlukannya, kita tidak berdoa. Seakan-akan doa hanya sebuah pilihan berdasarkan keperluan. Kita semua sebagai orang percaya, tentunya, mengetahui bahwa doa bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah gaya hidup bagi orang percaya.
Doa adalah Gaya Hidup Apa itu gaya hidup? Untuk menerangkan dengan mudah yang dimaksud dengan gaya hidup, kita dapat memperhatikan ilustrasi berikut ini. Bob Sadino adalah seorang pengusaha yang berhasil. Dalam penampilannya di mana saja, ia selalu mengenakan celana pendek. Entah ketika diwawancarai di televisi, entah sebagai model iklan, maupun sebagai bintang sinetron, ia selalu mengenakan celana pendek. Celana pendek menandai seorang Bob Sadino. Inilah gaya hidup.
Setiap hari, ketika di rumah, saya mengenakan celana pendek dan koas singlet. Entah di siang hari yang panas, entah di malam hari yang dingin, bahkan ketika tidur dengan kamar ber-AC, saya mengenakan pakaian itu. Itulah gaya hidup saya. Suatu saat di rumah saya berpakai tidak seperti biasanya, maka anak saya bertanya kepada saya: "Papa mau ke mana? Aleth ikut papa, ya."Saya jawab anak itu: "Papa tidak ke mana-mana." Anak itu menjawab: "Kok, Papa pakai kaos?" Padahal saya hanya mengenakan kaos oblong. Dalam hal ini, gaya hidup saya ditandai dengan celana pendek dan kaos singlet ketika berada di rumah. Jadi gaya hidup adalah ciri yang menjadi bagian yang melekat dalam diri seseorang yang menandai kehidupannya sehari-hari.
Mari kita membuka dan membaca kitab Daniel 6:11. Ayat ini menceritakan tentang Daniel, setelah mendengar bahwa Raja Darius menandatangani surat larangan yang tak dapat diubah kepada siapa saja untuk tidak melakukan permohonan kepada semua dewa atau manusia selain kepada raja sendiri dalam waktu 30 hari ke depan, berlutut, berdoa dan memuji Allah di rumahnya. Ayat ini juga menerangkan bahwa doa yang dilakukan Daniel dengan kata keterangan "seperti yang biasa dilakukannya." Keterangan ini hendak mengatakan kepada kita bahwa Daniel berdoa bukan hanya ketika ia menghadapi larangan yang baru saja ditandatangani Raja Darius. Bagi Daniel, doa adalah sudah menjadi bagian yang melekat dalam diri dan tak dapat dipisahkan. Bagi Daniel, tiada hari tanpa tiga kali sehari bedoa, entah ada atau tidak ada masalah. Doa adalah gaya hidupnya.
Bukankah surat larangan yang dikeluarkan oleh Raja Darius, sesungguhnya adalah hasil dari persekongkolan para pejabat lain yang ingin menjatuhkan Daniel? Mereka tahu bahwa tidak ada satu kesalahan pun dalam diri Daniel, kecuali seperti yang mereka katakan dalam ayat 6: "kita tidak akan mendapat satu alasan dakwaan terhadap Daniel, kecuali dalam hal ibadahnya kepada Allahnya." Melalui ayat ini kita dapat mengatakan bahwa para pejabat lain telah mengetahui bahwa doa telah menjadi ciri yang melekat di dalam diri Daniel dan itu menandai gaya hidup sehari-harinya. Kalau Anda ditanya: "apakah Anda kenal Daniel?" Seharusnya Anda menjawab menjawab: "Daniel yang mana? Daniel yang suka berdoa, ya? Kalau dia, saya kenal."
Martin Luther berkata: "I have so much business I cannot get on without spending three hours daily in prayer" (Saya mempunyai banyak urasan yang tak dapat saya jalankan tanpa menghabiskan 3 jam sehari dalam doa). John Wesley berkata: "God does nothing but in answer to prayer" (Allah tidak mengerjakan apa-apa kecuali menjawab doa). Karena keyakinannya ini ia berdoa dua jam sehari. Markus 1:35 mengatakan: pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana." Apa yang dikatakan Markus adalah gaya hidup Yesus.
Mengapa Doa Harus Menjadi Gaya Hidup? Pertama-tama, doa harus menjadi gaya hidup orang percaya karena doa menyatakan bahwa kita percaya kepada Allah. Larangan yang ditandatangani oleh raja itu memiliki konsekuensi yang berat bagi para pelanggarnya, yaitu dilemparkan ke dalam gua singa (Dan 6:8). Daniel mendengar dan mengetahui perintah larangan dan konsekuensinya, tetapi apa yang dilakukan, yaitu berdoa, bukan semata-mata untuk melanggar larangan Raja. Ia berdoa sebagai bentuk bahwa ia percaya dan mempercayakan dirinya sendiri kepada Allah. Lihat apa yang dituturkan Alkitab: "Lalu sangat sukacitalah raja dan ia memberi perintah, supaya Daniel ditarik dari dalam gua itu. Maka ditariklah Daniel dari dalam gua itu, dan tidak terdapat luka apa-apa padanya, karena ia percaya kepada Allahnya" (Dan 6: 24). Wayne Grudem mengatakan: "prayer expresses our trust in God and is a means whereby our trust in him can increase" (doa menyatakan kepercayaan kita kepada Allah dan doa adalah sarana di mana keprcayaan kita akan dia dapat bertumbuh).
Yang kedua, doa adalah penyembahan. Grudem mengatakan: "Worship is the activity of glorifying God in his presence with our voices and hearts" (penyembahan adalak aktivitas pengagungan Allah di dalam hadirat-Nya dengan suara dan hati kita). Kita kembali pada teks utama kita, yaitu Dan 6: 11. Dalam ayat ini, Daniel berlutut, berdoa, dan memuji Allah. Ketiga aktivitas ini bukan terpisah satu dengan lainnya, melainkan satu kesatuan. Ketika Daniel berlutut untuk beroda, di dalam doa itu Ia memuji Allahnya. Aktivitas yang dilakukannya oleh Raja Darius disebut sebagai penyembahan. Sang Raja berkata: "Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya melepaskan engkau!" (6:17). Sekali lagi Sang Raja berkata: "Allahmu yang kausembah dengan tekun," (6:21). Doa bukan hanya permintaan dan permohonan. Di dalam doa ada pengagungan, ada pemuliaan nama Tuhan.
Ketiga, doa membawa kita pada persekutuan yang lebih mendalam dengan Allah. Sekali lagi, di sini kita mengutip perkataan Grudem. Ia berkata: "prayer is personal communication with God" (doa adalah komunikasi pribadi dengan Allah). Seorang presiden sebuah perusahaan yang besar ingin berbicara dengan manager pabrik tentang sesuatu yang urgen. Sang sekretaris manager berkata: "Ia tidak dapat diganggu. Ia sedang dalam pertemuan seperti biasa yang ia lakukan pada jam-jam seperti ini. Sang presiden merespon dengan tidak sabar dan berkata: "katakan kepadanya Sang Presiden ingin bertemu dengannya." Sang sekretaris dengan teguh berkata: "saya diperintahkan dengan keras untuk tidak mengganggunya sementara dia ada dalam pertemuan." Dengan marah Presiden melewati sang sekrataris dengan menyenggolnya dan membuka pintu kantor sang manager. Setelah melihat dengan cepat ia kembali, dengan lembut menutup pintu, dan berkata: "Saya minta maaf!" Sang Presiden mendapati sang manager sedang berlutut di depan Alkitab yang terbuka. Ini adalah cerita yang diambil dari artikel dengan judul "In Conference" yang di tulis oleh M. R. De Haan. Selanjutnya ia mengatakan: "The purpose of a daily devotional time is to stimulate regular, intimate meetings with the King of kings" (tujuan memiliki waktu saat teduk setiap hari adalah merangsang persekutuan yang teratur dan intin dengan Raja dari segala raja). Demikian juga ketika berdoa, Daniel sedang membangun persekutuan yang intim dengan Allah. Hanya orang yang memiliki persekutuan yang intim dengan Allah melalui doa, ia mengenal siapa Allahnya. Jika ia mengenal Allahnya, ia akan tetap kuat (bertahan dalam kepercayaaannya kepada Allah), meskipun banyak kesulitan yang dihadapinya (Bnd. 11:32).
Ditulis Oleh :Pdt. Stephano Ambesa, M.Th
Read More

Fakta Sejarah Tahun Kelahiran Yesus Kristus

Diposting oleh Andre Primaries on Selasa, 29 November 2011

Awalnya saya mengira tahun kelahiran Yesus Kristus adalah 1 Masehi. Mungkin pemikiran tersebut berasal dari dari cerita-cerita sekolah minggu atau khotbah-khotbah hari minggu. Yang mengatakan bahwa “Yesus lahir 2000 tahun yang lalu” (waktu acara natal tahun 2007, pembawa acaranya mengatakan “pada saat Yesus lahir  lahir 2007 tahun yang lalu…”). Hal-hal tersebut bisa mengisyaratkan bahwa kita yang awam belum mengetahui dengan persis kapan peristiwa kelahiran tersebut atau berpendapat 1 Masehi adalah tahun kelahiran Yesus.

Jika dihubungkan dengan sejarah, sederhananya yang menjadi patokan tahun kelahiran tersebut adalah Herodes Agung yang di dalam Kitab Injil.
Herodes Agung menurut para ahli diperkirakan meninggal pada tahun 4 sebelum masehi (silahkan googling tentang , Herod the Great untuk memastikan tahun kematiannya) pada saat Yesus yang masih balita sedang berada dalam pelarian di Mesir untuk menghindar dari pembunuhan anak umur di bawah 2 tahun oleh Herodes Agung. Diperkirakan umur Yesus ketika malaikat memberitahukan kepada orang tuanya bahwaHerodes telah mati, berkisar 1-3 tahun.
Bisa disimpulkan kelahiran Yesus sekitar tahun 7-4 sebelum masehi berpatok dari tahun kematian Herodes Agung (4 sebelum Masehi) di tambah dengan perkiraan umur Yesus pada saat itu (1-3 tahun).
Read More